Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
5 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
5 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
5 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Olympic

Lonceng Tua Penanda Buka Puasa

Lonceng Tua Penanda Buka Puasa
Lonceng tua di Pendopo Kabupaten Cianjur. (Foto: Koleksi Hendi Jo/Merdeka.com)
Sabtu, 02 April 2022 20:44 WIB

KISAH sebuah lonceng tua yang pernah memiliki fungsi penting dalam perjalanan sebuah kota. Termasuk mengumumkan telah tibanya waktu berbuka puasa di bulan ramadan.

Jika Anda berkunjung ke gedung Pendopo Kabupaten Cianjur, maka sempatkanlah untuk melangkah ke bagian sudut timur dekat jalan besar dan alun-alun selatan. Di sana anda akan menemukan sebuah lonceng tua berukuran besar, tergantung di sebuah pengait baja yang menempel pada seonggok tugu kusam.

Bagi kalangan generasi tahun 1990-an ke bawah, lonceng kabupaten (sebutan akrab orang Cianjur) memiliki kenangan tersendiri. Masih segar dalam ingatan Pepet Johar (76), bagaimana saat remajanya dulu lonceng itu selalu dibunyikan tiap jam. "Itu masih dilakukan mungkin sampai akhir tahun 1950-an," ungkap pengelola Bumi Ageung (Museum Prawiradiredja II, bupati Cianjur ke-10) itu.

Sejak tahun 1970-an, tugas lonceng kabupaten mulai dikurangi. Selain hanya digunakan untuk tanda mulai berlangsungnya jam kerja di lingkungan kabupaten, lonceng itu pun difungsikan sebagai pemberitahu telah tibanya waktu berbuka puasa di bulan Ramadan.

"Saya ingat, begitu mendengar lonceng berdentang, kami yang saat itu tengah ngabuburit di alun-alun langsung bubar untuk berbuka puasa di warung-warung sekitar," kenang Hendrawan, lelaki kelahiran 1977.

Kebiasaan itu terus berlangsung hingga muncul teknologi sirene. Sejak itulah, tanda berbuka puasa diganti dengan bunyi sirene yang mengalun dari Masjid Agung Kaum. Otomatis dengan bergeraknya zaman, lonceng kabupaten pun pensiun.

Banyak versi yang beredar sekitar asal-usul lonceng kabupaten. Namun jika mengacu kepada tulisan yang tertera di kepala lonceng (BORCHHARD GEGOTEN IN T AMBAGD QWARTIR TOT BATAVIA 1774), besar kemungkinan lonceng itu dibuat di Batavia oleh Johan Christian Borchhard, seorang pengrajin lonceng Eropa terkemuka pada abad ke-18.

"Lonceng buatan Borchhard tersebar dari Belanda hingga Afrika Selatan," ujar V.R. Najoan, peneliti sejarah dari Historika Indonesia.

Borchhard sebenarnya seorang berkebangsaan Jerman, namun menjelang kematiannya pada 1777, ia kerap bermukim di Enkhuizen, Belanda. Dari penelisikan yang dilakukan oleh Najoan, ada dua lonceng karya Borchhard yang dibuat di Batavia, khusus untuk Gubernur Jenderal VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Belanda) ke-29 Petrus Albertus van Der Parra. Lonceng pertama selesai pada 1772 sedangkan lonceng kedua rampung pada 1774, setahun sebelum van Der Parra meninggal secara mendadak.

"Jika melihat kisah tersebut, saya memiliki pendapat lonceng yang terdapat di muka pendopo Cianjur itu adalah lonceng kedua. Itu dibuktikan dengan tahun yang tertera di kepala lonceng yakni 1774," ungkap lelaki yang rajin menelisik arsip-arsip di era VOC itu.

Ada dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi itu dihibahkan pemerintah Hindia Belanda kepada Cianjur di awal abad ke-19, sebagai simbol penghargaan. Menurut Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kejapaksa, sejak awal abad ke-18 Cianjur merupakan sumber devisa terbesar bagi pemerintah Hindia Belanda pasca VOC runtuh akibat korupsi. Terutama untuk komoditas kopi.

Kedua, lonceng itu dihadiahkan khusus untuk Bupati Prawiradiredja II karena prestasinya yang sangat hebat dalam membangun Cianjur. Besar kemungkinan benda itu diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1904 ketika pemerintahan Cianjur mengadakan pesta peringatan ke-40 berlangsungnya pemerintahan Prawiradiredja II. Bataviaasch Nieuwsblad tertanggal 26 Agustus 1904, mengisahkan bagaimana saat itu para pejabat dan pemuka komunitas Eropa, Tionghoa dan tokoh-tokoh bumiputera memberikan berbagai aneka hadiah menarik kala itu kepada sang bupati.

Ketika Prawiradiredja II mangkat pada 17 Maret 1910, lonceng kabupaten sempat menjalankan tugasnya untuk memberitahu khalayak. Dalam Preanger Bode tertanggal 23 Maret 1910, disebutkan bagaimana berita duka itu diumumkan dengan beberapa kali dentangan lonceng kabupaten tepat pada jam 6 pagi, disusul kemudian dengan pukulan beduk bertalu-talu dari Masjid Agung Cianjur.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:PON, Olympic, DKI Jakarta, Jawa Barat
wwwwww