Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
17 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
21 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
17 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
21 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
16 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Pengamat: Koalisi PKS-PKB Akan Layu Sebelum Pilpres 2024

Pengamat: Koalisi PKS-PKB Akan Layu Sebelum Pilpres 2024
Silaturahmi kebangsaan PKB dan PKS. (Foto: Istimewa)
Senin, 13 Juni 2022 21:43 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Koalisi Semut Merah yang digagas oleh PKS dan PKB diragukan bisa bertahan hingga Pemilu 2024. Koalisi ini dinilai bakal menghadapi medan berat, bahkan sebelum berkembang seperti Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) gagasan Golkar-PAN-PPP.

"Wacana koalisi Semut Merah yang digagas PKB dan PKS tampaknya akan layu sebelum berkembang," kata Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, kepada GoNews.co, Senin (13/6/2022).

Menurut Jamiluddin, ada dua pertimbangan utama mengapa koalisi ini bakal sulit bertahan hingga 2024. Pertama, berkaitan dengan ideologi kedua partai yang berseberangan.

Meskipun berlandaskan Islam, baik PKS dan PKB sejatinya memiliki ideologi keislaman yang berbeda. PKB sejauh ini merupakan partai politik poros keislaman yang kental dengan budaya kaum Nahdlatul Ulama (NU). Sementara PKS, cenderung puritan. "PKB dan PKS selama ini dinilai kerap berseberangan. Ideologi perjuangan kedua partai tampaknya kurang sejalan,” ucap Jamiluddin.

Jamiluddin juga menyinggung, keduanya memang sempat satu koalisi di era Susilo Bambang Yudhyono (SBY). Namun kala itu, koalisi dibentuk di bawah gagasan Partai Demokrat, bukan diprakarsai PKB maupun PKS.

"Dengan begitu, tampaknya sulit bagi kedua partai untuk menyatukan visi dan misi dalam mengusung presiden. Kedua partai akan terjebak pada ideologi perjuangan masing-masing," tuturnya.***

wwwwww