Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
20 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
15 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
19 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
16 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
14 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Metropolitan

PKS Minta Pemerintah Tidak Salah Fokus Soal Kebijakan Ekspor CPO

PKS Minta Pemerintah Tidak Salah Fokus Soal Kebijakan Ekspor CPO
Ilustrasi CPO. (Foto: Istimewa)
Selasa, 05 Juli 2022 20:21 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pemerintah perlu berhati-hati menerapkan kebijakan menggesa ekspor CPO dan turunannya. Jangan salah fokus, sehingga niat baik ekspor tersebut malah menimbulkan kelangkaan CPO seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Akibatnya harga minyak goreng dalam negeri melambung.

Demikian dikatakan anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, menanggapi rencana Pemerintah menggesa ekspor CPO dan turunannya. Rencana ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, awal pekan ini. Luhut sudah meminta Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, untuk mempercepat pelaksanaan rencana ekspor CPO tersebut ke beberapa negara.

"Pemerintah jangan salah fokus terkait dengan soal tersebut. Semestinya Pemerintah tidak fokus untuk menggesa ekspor CPO demi keuntungan pengusaha CPO dan minyak goreng. Yang lebih prioritas adalah fokus untuk memenuhi kebutuhan CPO dan minyak goreng (migor) domestik. Jangan sampai muncul kembali kasus kelangkaan bahan baku migor seperti sebelum-sebelumnya," kata Mulyanto kepada wartawan, Selasa, (5/7/2022).

Terkait kapasitas tangki-tangki industri CPO dan migor yang penuh, Mulyanto menilai, justru ini adalah hal positif bagi Pemerintah untuk terus menggesa produsen CPO ini mengosongkan tangki-tangki tersebut melalui produksi migor, baik kemasan ataupun curah, bagi keperluan dalam negeri.

"Produksi migor untuk pasar domestik harus diprioritaskan, sampai pasar banjir dan harga migor benar-benar sesuai dengan HET (harga eceran tertinggi) yang telah ditetapkan. Jangan belum apa-apa Pemerintah sudah menggesa untuk ekspor CPO tersebut. Nanti kita akan mengalami kelangkaan bahan baku migor lagi. Padahal harga migor hari ini masih jauh di atas HET," kata Wakil Ketua FPKS DPR RI ini.

Sementara untuk mengangkat harga TBS di tingkat petani, khususnya petani sawit rakyat, Pemerintah harus benar-benar memperhatikan mekanisme pembelian TBS, agar petani sawit diuntungkan.

Jangan sampai seperti sekarang, posisi tawar mereka sangat lemah. Model kemitraan petani-industri, nampak lebih baik dan menguntungkan petani sawit. Selain itu, Mulyanto juga mendesak Pemerintah untuk segera menata industri atau pabrik kelapa sawit (PKS).

Selama ini PKS tersebut yang membeli TBS dari petani sawit rakyat. Sekarang ini mereka sudah banyak yang menolak TBS dari petani, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tutup. Ini faktor utama yang menyebabkan harga TBS petani rakyat anjlok ke titik nadir.

Untuk diketahui, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Panjaitan meminta Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan untuk mempercepat realisasi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan bahan baku minyak goreng. Langkah percepatan realisasi ekspor dikarenakan kapasitas tangki-tangki yang dalam waktu dekat akan kembali penuh.

Selain itu, hal ini juga dilakukan mengingat masih rendahnya harga tandan buah segar (TBS) di sisi petani. Hal ini disampaikan Luhut dalam rapat evaluasi kebijakan pengendalian minyak goreng pada Jumat (1/7).***

wwwwww