Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
9 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
10 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
13 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Kepemimpinan Indonesia pada 2045 Ada di Tangan Anak Muda Sekarang

Kepemimpinan Indonesia pada 2045 Ada di Tangan Anak Muda Sekarang
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh. (Dok. Kemenpora)
Senin, 22 Agustus 2022 20:02 WIB
Penulis: Azhari Nasution
SEMARANG - Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa, kepemimpinan Indonesia pada 2045, saat Indonesia berusia 100 tahun, ada di tangan anak muda hari ini, yang rata-rata usia 20 tahunan.

Hal tersebut disampaikan Asrorun Ni’am Sholeh di depan para santri saat berkunjung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Besongo Semarang, pekan lalu.

Lebih lanjut, Niam menjelaskan tentang peran muda dalam memaknai dan berkontribusi mengisi kemerdekaan. “Hidup dan mati itu ‘given’ tapi untuk menjadi sukses itu perlu adanya ikhtiar atau usaha kita untuk mewujudkannya,. Demikian juga tentang perubahan sosial. Berubah itu sunnatullah, tetapi menjadi baik atau buruk adalah pilihan kita. Kita wajib memperjuangkannya” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren An-Nadhlah Depok tersebut.

Oleh karena itu lanjutnya, pemuda harus memiliki desain sebagai planning, perencanaan serta strategi untuk mewujudkan cita-cita itu. Sehingga waktu dan tenaga yang hilang bisa maksimal dan bermanfaat.

“Jangan sampai kita semua punya cita-cita yang abstrak atau tidak jelas. Hal ini diibaratkan seperti seorang penggembala yang meninggalkan kambingnya di padang rumput tanpa adanya arahan,” tandasnya.

Niam juga menekankan, bulan kemerdekaan Indonesia adalah suatu momentum untuk merefleksikan diri dan mensyukuri. Bagi generasi muda, memanfaatkan waktu dan kesempatan adalah salah satu cara mensyukurinya.

Meski sebagai pemuda kita dituntut untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Tapi jangan sampai aktivitas organisasi membuat kita terlena dari belajar formal (pengembangan kapasitas intelektual) yang sudah menjadi kewajiban kita.

“Orang sukses itu biasanya yang mampu menyeimbangkan antara keduanya. Baik organisasi maupun akademiknya,” tandasnya.

Dalam berorganisasi, kita sedang melakukan pemenuhan dengan kapasitas sosial atau interpersonal kita. Sedangkan dengan belajar formal termasuk peningkatan skill adalah kemampuan personal yang juga sangat diperlukan.

“Maka, sehebat apa pun kapasitas personal kita tapi kalau tidak punya media atau cara untuk menyampaikannya itu kurang sempurna. Dan kalau aktif berorganisasi tapi kurang kemampuan personal dan individunya juga akan rusak,” lengkapnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Rektor UIN Walosongo Semarang Prof. KH. Imam Taufiq, Kepala LPM UIN Semarang, Segenap Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo juga Abdullah Mas’ud, Kepala Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga. ***

wwwwww