Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
16 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
11 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
15 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
12 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
15 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Beladiri

Kembali Beredar, Orasi Tito Karnavian "Yang Main Kami Saja"

Kembali Beredar, Orasi Tito Karnavian Yang Main Kami Saja
Tito Karnavian saat menjabat Kapolri. (Foto: Istimewa)
Kamis, 25 Agustus 2022 22:56 WIB

JAKARTA - Sebuah video yang memperlihatkan orasi M. Tito Karnavian saat masih menjadi Kapolri kembali beredar di media sosial. Menariknya, ada pesan yang disampaikan kaya akan makna.

Berdasarkan video yang beredar, orasi yang disampaikan Tito terjadi dalam diskusi publik bertajuk "Negara Pancasila versus Negara Agama" yang digelar di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta Pusat, 8 April 2017.

Dalam kesempatan itu, mulanya Tito menyampaikan harapan kepada masyarakat untuk tidak diam tapi tetap menyampaikan aspirasinya. "Kita mengharapkan teman-teman, saudara-saudara kita yang mayoritas silent majority jangan hanya silent, tapi lebih besuara kita minta," ujar Tito dalam video berdurasi 1.51 menit yang dikutip Kamis (25/8/2022).

Selain itu, Tito juga menyinggung soal pentingnya dukungan kelompok mayoritas kepada pemerintah, bukan justru ancaman-ancaman menggulingkan kekuasaan yang kala itu terjadi.

"Militan seperti mereka mau membunuh, saya pikir enggak perlulah. Tapi paling tidak besuara memberikan dukungan kepada pemerintah, memberikan dukungan kepada aparat penegak hukum, misalnya," tuturnya.

"Itu sudah cukup. Yang main kami saja," imbuhnya menegaskan.

Dalam video itu juga disampaikan oleh Tito tentang posisi Polri sebagai penegak hukum, di mana bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Bahkan dia memastikan, aparat kepolisian dalam mengambil tindakan apalagi upaya paksa selalu melihat dua sisi, yaitu aspek yuridis dan aspek sosiologis.

"Jadi ada legitimasi hukum dan legitimasi sosial. Tapi begitu kemudian ada aspek hukumnya, kita tangkapin, misalnya kemarin kasus dugaan makar, begitu kiita tangkapin silent majority-nya kok diam saja, begitu," bebernya.

Di bagian akhir video, Tito mengungkap keluh kesahnya atas apa yang terjadi kala itu, karena apa yang dia kerjakan sebagai Kapolri dianggap tidak serius.

"Terus yang digecek-gecek (dengan bilang) ini Kapolrinya keterlaluan, ini Kapolrinya cuma bikin lelucon saja. Kita ingin hanya dukungan sosial suara. Disuarakan maka kita akan bergerak," demikian Tito menyampaikan.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Beladiri, Voli, DKI Jakarta
wwwwww