Ketua DPRD Batang Desak Pemkab Segera Tertibkan 'Durian Celeng' di Kandeman
![]() |
| Ketua DPRD Batang sekaligus Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batang, Maulana Yusuf. (Foto: Istimewa) |
Penulis: Muslikhin Effendy
BATANG - Ketua DPRD Kabupaten Batang, Maulana Yusuf turut angkat bicara terkait mencuatnya fenomena 'Durian Celeng' Kandeman. Ia mengaku miris dan prihatin dengan fenomena yang merugikan masyarakat.
Demikian diungkapkan Maulana Yusuf saat dikonfirmasi GoNews.co, melalui pesan Whatsapp, Rabu (22/2/2023). "Pertama perihatin dan miris. Karena selain masyarakat yang dirugikan, nama Batang sendiri jadi tercoreng," ujarnya.
Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pun mendesak, agar Pemerintah Kabupaten Batang segera menertibkan para pedagang 'Durian Celeng'. "Jadi Saya minta, agar Dinas terkait, untuk segera menertibkannya," desaknya.
Selain itu kata Yusuf, Ia juga berharap Peerintah Kabupaten Batang tidak menyepelekan persoalan tersebut. Dikarenakan lokasi para pedagang ada di kawasan jalan raya, Ia juga meminta agar Dinas terkait segera berkoordinasi dengan pihak Polantas Batang. "Mungkin bisa kordinasi dengan pihak Polantas, dan pihak-pihak terkait, pada intinya semua yang berkepentingan dan punya kewenangan, silahkan memberikan tindakan tegas," tandasnya.
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batang itu juga mengingatkan, agar para pedagang tersebut segera bertaubat dan berdagang dengan jujur. "Saya sekali lagi mengimbau, berdaganglah dengan jujur. Kemudian berjualan lah di tempat-tempat yang sudah disediakan dan bukan tempat yang bisa membahayakan mereka sendiri maupun orang lain," urainya.
Sebelumnya, 'Durian Celeng' sering menjadi bahan perbincangan masyarakat baik di tongkrongan, warkop maupun di media sosial. Mulai dari segi harga sampai dengan rasa dan kualitasnya. Maraknya Durian Celeng tersebut juga dianggap mencoreng nama baik Kabupaten Batang sendiri.
Hal tersebut diungkapkan Kasatpol PP Kabupaten Batang, M Fatoni saat ditemui di sela-sela acara Festival Buah Nusantara di Pendopo Batang, Kabupaten Batang, Rabu (22/2/2023). "Tentunya ini akan membuat citra jelek bagi Kabupaten Batang. Saya juga agak drop ya mendengar isu ini. Inikan juga bisa merugikan buat pedagang lain, pedagang yang bener-bener cari makan dengan jujur," ujarnya.
"Dan pastinya kasus ini membuat kita sedih dan malu," ungkap Fathoni.
Karena, kata Dia, tak sedikit masyarakat, khususnya para pengguna jalan yang merasa ditipu dan dirugikan. "Jadi kadang kadang, barang (durian,red) yang dijual itu tidak sesuai dengan yang diharapkan pembeli, misalnya masih mentah, harusnya manis ternyata tidak manis, dan lain sebagainya. Tentunya ini akan membuat citra jelek bagi Kabupaten Batang. Saya juga agak drop ya mendengar isu ini," tandasnya.
Satpol PP, kata Fathoni, siap membantu pihak-pihak terkait, dalam hal ini Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) dan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk menertibkan para oknum pedagang ‘Durian Celeng’ tersebut.
"Karena selain mencoreng nama baik daerah, praktik tersebut sangat merugikan warga. Bahkan teman saya sendiri pernah menjadi korbannya. Dia cerita pernah beli durian di Exit Tol Kandeman itu, dan dibawanya ke Wonogiri, setelah dibuka, satupun tidak ada yang bisa dimakan," bebernya.
Jika para pedagang tersebut akan dibina dan diberikan edukasi, pihaknya sebagai satuan pengamamanan siap jika dibutuhkan. "Artinya ini ada kewenangan dari beberapa unsur kedinasan, yang harus bersatu dan sepakat untuk memberikan edukasi, supaya hal demikian tidak terjadi lagi,” urainya.
Untuk dieketahui, stilah 'Durian Celeng', muncul saat para sopir dan masyarakat membeli durian di kawasan Exit Tol Kandeman Batang. Durian yang dijual para pedagang, biasanya sudah diikat dengan jumlah tertentu yang dibanderol dengan harga Rp50 ribu-Rp100 ribu. Namun sayangnya, durian-durian tersebut kebanyakan tidak bisa dikonsumsi, mulai dari buah yang busuk, tidak manis, hingga buah yang tidak berisi.
Celeng sendiri dalam bahasa Jawa artinya adalah babi hutan atau babi liar. Kata Celeng adalah bentuk umpatan warga yang merasakan kekecewaan luarbiasa. "Celeng itukan babi ya mas, jadi kalau kita emosi yang berlebihan, biasanya akan mengumpat dengan istilah celeng," ujar salahsatu sesepuh di Batang.
"Jadi ketika ada orang bilang 'Durian Celeng', artinya dia kecewa membeli buah durian itu," jelasnya lagi.
Dari pantauan GoNews.co, ada banyak para pedagang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan setengah baya berdiri di traffic lights yang ada di tengah pertigaan Jalan Pantura, dan interchange Kandeman Jalan Tol Trans Jawa.
Terkadang mereka saling berebut untuk menjajakan durian yang dibawa saat ada mobil atau pengendara roda dua berhenti. Satu pedagang, biasanya akan membawa 1 hingga dua tenteng paket durian berbagai ukuran. "Malu kita mas, semoga pemerintah sigap dan jangan sepele dengan masalah ini, karena nama baik daerah benar-benar tercoreng lho," pungkas sesepuh tersebut.***
| Kategori | : | Olympic, Ekonomi, Voli, Metropolitan, Jawa Tengah |












