Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
11 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
10 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
10 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
6 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  Olympic

Benarkah Kecerdasan Anak Diwarisi dari Ibu? Simak Faktanya!

Benarkah Kecerdasan Anak Diwarisi dari Ibu? Simak Faktanya!
Ilustrasi.
Senin, 08 Mei 2023 13:13 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Kecerdasan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor genetik yang diwarisi dari orang tua. Namun, apakah ibu benar-benar lebih berperan dalam mentransmisi kecerdasan ke anak dibandingkan ayah?

Sebuah penelitian dari University of Washington menunjukkan bahwa wanita cenderung mentransmisi gen kecerdasan ke anak yang terbentuk dari kromosom X. Karena wanita memiliki dua kromosom X, sedangkan pria hanya memiliki satu kromosom X, artinya wanita dua kali berpeluang mewariskan kecerdasan pada anak ketimbang pria.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tikus sebagai alat percobaannya. Para peneliti mengidentifikasi sel-sel yang hanya berisi gen ibu atau ayah di enam bagian berbeda dari otak tikus. Bagian ini mengontrol fungsi kognitif berbeda, dari kebiasaan makan hingga memori.

Sel dengan gen paternal terakumulasi di bagian sistem limbik, yang terlibat dalam fungsi seperti seks, makanan, dan agresi. Tetapi para peneliti tidak menemukan sel paternal di korteks serebral, di mana fungsi kognitif paling maju berlangsung, seperti penalaran, pemikiran, bahasa, dan perencanaan.

Para peneliti di Glasgow, Skotlandia, juga melakukan penelitian yang lebih manusiawi untuk mengeksplorasi kecerdasan. Sejak 1994 dan dilakukan tiap tahunnya, peneliti mewawancarai 12.686 orang yang berusia 14 sampai 22 tahun.

Hasilnya, tim peneliti menemukan prediktor kecerdasan terbaik adalah IQ dari gen sang ibu. Ada juga penelitian menarik lainnya dari University of Washington, AS. Di sana peneliti menemukan bahwa ikatan emosional yang baik antara ibu dan anak amat penting bagi pertumbuhan beberapa bagian otak, contohnya area hippocampus.

Hippocampus adalah area yang berhubungan dengan memori, belajar, dan respons stres. Setelah peneliti melakukan analisis antara hubungan ibu dan anak selama tujuh tahun, mereka menemukan temuan yang menarik. Ternyata, jika seorang anak mendapatkan dukungan emosional dan intelektual dengan baik, maka area hippocampusnya lebih besar 10 persen dariada anak-anak yang kurang mendapatkan dukungan dari ibunya.

Meskipun kecerdasan anak berkaitan erat dengan faktor genetik, tapi bukan berarti pintar-tidaknya seorang anak mutlak dipengaruhi oleh faktor tersebut. Ada penelitian yang menyebutkan hanya 40-60 persen kecerdasan yang diperkirakan berasal dari warisan gen. Selain genetik, kecerdasan anak sisanya bergantung pada lingkungan.

Jadi, lingkungan punya pengaruh pada kecerdasan, meskipun pengaruh ini menjadi lebih kecil jika anak tumbuh semakin dewasa. Ahli dari Melbourne University’s Graduate School of Education juga berpendapat bahwa anak tidak hanya berbagi gen saja, mereka juga berbagi keluarga dan lingkungan.

Tips Agar Anak Tumbuh Cerdas

Memang tidak ada jalan yang pasti agar anak tumbuh menjadi jalan yang cerdas. Jangan khawatir, berikut ini hal yang disarankan untuk dilakukan orangtua agar anak tumbuh cerdas, yaitu:

Ajarkan Keterampilan Sosial. Studi dilakukan di Pennsylvania State dan Duke University menunjukkan ada korelasi positif antara keterampilan sosial anak-anak di taman kanak-kanak dan keberhasilan mereka di awal masa dewasa. Caranya dengan mengajari anak-anak cara menyelesaikan masalah dengan teman, mendengarkan tanpa menyela, dan membantu orang lain di rumah.

Jangan Terlalu Melindungi.

Di usia pengasuhan, banyak orangtua yang mengalami kesulitan untuk mengizinkan anak-anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Orangtua gemas sendiri dan turun tangan langsung untuk membantu anak. Padahal, tindakan ini tidak tepat. Peneliti dari Universitas Harvard, Julie Lythcott-Haims berpendapat, membiarkan anak-anak membuat kesalahan dan mencari cara sendiri untuk memperbaikinya adalah hal yang baik untuk membuat mereka tumbuh cerdas.

Dorong Anak Belajar Sejak Dini.

Membaca untuk anak-anak dan mengajar mereka matematika sejak dini memengaruhi kemampuan akademis mereka kelak. Namun, penting juga untuk tidak membantu terlalu jauh apabila anak punya pekerjaan rumah dari sekolah. Jika orangtua terlalu banyak membantu, hal ini dapat menghambat kecerdasan mereka.

Jangan Terlalu Lama di Depan Gadget. Terlalu banyak waktu menonton dikaitkan dengan obesitas, pola tidur yang tidak teratur, dan masalah perilaku. Selain itu, studi tahun 2017 oleh Greg L. West di University of Montreal mengungkapkan, bermain game dapat merusak otak dan menyebabkannya kehilangan sel. Menurut American Academy of Pediatrics, waktu terbaik anak bermain gadget harus dibatasi, yakni dua jam sehari.

Jangan Terlalu Sering Memuji.

Beberapa orangtua menemukan anak mereka ternyata lebih pintar dari yang kamu bayangkan. Namun, berhenti memujinya secara berlebihan. Penelitian di Universitas Stanford menunjukkan, memuji anak-anak secara berlebihan malah dapat membuat mereka tidak berusaha maksimal nantinya.***

wwwwww