Mendikdasmen Siap Ubah Arah Pendidikan, Cegah Budaya Menyontek di Sekolah dan Kampus
![]() |
| Lihat Foto Ilustrasi siswa ujian. |
JAKARTA – Maraknya praktik menyontek di lingkungan pendidikan mendapat perhatian serius dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti. Ia menyatakan akan segera memperbaiki sistem pembelajaran dan mengubah orientasi pendidikan nasional agar tidak sekadar mengejar nilai, namun juga memperkuat karakter dan integritas peserta didik.
Fokus pada Nilai dan Karakter
Mu'ti menegaskan bahwa orientasi pendidikan harus bergeser dari sekadar capaian akademik menuju pembentukan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Ia menyebut, pelatihan guru saat ini telah mulai memasukkan aspek penguatan nilai serta pengembangan layanan bimbingan konseling bagi siswa.
"Kami mulai menekankan pentingnya pendidikan karakter, bukan hanya soal nilai. Guru-guru pun kami latih untuk memberikan perhatian lebih terhadap pembentukan kepribadian siswa," ujarnya di Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Terapkan Konsep Deep Learning
Salah satu terobosan yang direncanakan adalah penerapan pendekatan deep learning pada tahun ajaran 2025/2026. Metode ini menekankan proses pemaknaan terhadap materi pelajaran agar siswa tidak hanya tahu (knowing), tetapi juga mampu menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan nyata (behaving).
"Pendidikan yang baik harus membentuk perilaku, bukan sekadar menghafal konsep," tegas Mu'ti.
Temuan SPI: Menyontek dan Plagiarisme Masih Tinggi
Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024 menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Sebanyak 78 persen sekolah dan 98 persen kampus masih ditemukan praktik menyontek. Tak hanya itu, plagiarisme juga masih marak, terutama di perguruan tinggi (43 persen) dan sekolah (6 persen).
"Masih banyak guru dan dosen yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Ini juga bagian dari ketidakdisiplinan akademik yang harus dibenahi," ujar Deputi KPK Bidang Pendidikan, Wawan Wardiana.
Reformasi Sistem Pendidikan Jadi Prioritas
Dengan skor SPI Pendidikan 2024 yang berada di angka 69,50, Mu'ti menilai perlu reformasi menyeluruh terhadap sistem dan pendekatan belajar-mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi.
"Kami ingin membangun sistem pendidikan yang bukan hanya menghasilkan siswa cerdas, tapi juga bermoral dan berintegritas," tutupnya. ***













