Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
16 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
10 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
10 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
10 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
11 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
16 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Pemerintah Perlu Eksta Serius Terkait Swasembada BBM

Pemerintah Perlu Eksta Serius Terkait Swasembada BBM
Presiden Prabowo Subianto saatberbicara swasembada BBM. (Foto:tangkapan layarNusantaratv)
Kamis, 08 Mei 2025 11:54 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada BBM di masa Pemerintahannya dinilai Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI), Mulyanto, sangat ambisius, sehingga perlu ekstra kesungguhan dan kapasitas Pemerintahan.

"Itu adalah visi yang bagus namun perlu pembuktian. Karena ini masalah berat yang telah membelit cukup lama," kata Mulyanto.

Anggota Komisi Energi DPR RI 2019-2024 itu menambahkan lifting minyak terus merosot, bahkan anjlok. Target lifting sejuta barel minyak per hari (BPH) sudah menjadi halusinasi.

"Sejak Era Reformasi tidak ada pembangunan kilang baru. Proyek kilang minyak di Jatim dan Kaltim mandeg. Yang tersisa adalah kilang-kilang tua, yang kita dengar setiap empat bulanan sekali terjadi kasus kebakaran kilang.

Sementara investor asing di sektor ini hengkang satu per satu, seperti ConocoPhillips, Royal Dutch Shell, dan Chevron, karena dianggap semakin tidak menarik, di tengah arus deras investasi sektor energi baru-energi terbarukan (EBET)," terang Sekjen Menristek era Pemerintahan SBY ini.

Ia menyebut dari sisi kelembagaan, Pertamina sebagai BUMN Migas andalan nasional justru tengah sempoyongan, karena Dirut dan Komut-nya diisi dari anggota dewan pembina parpol penguasa serta didera kasus korupsi jumbo dimana kerugian negara untuk tahun 2023 saja diperkirakan mencapai Rp 193,7 triliun.

Untuk diketahui, sejak tahun 2008 Indonesia resmi menjadi negara net importir minyak, akibat tingginya konsumsi yang tidak dibarengi dengan produksi yang ada. Pada tahun 2024 impor minyak kita mencapai 64% dari total kebutuhan yang ada.

Pada tahun 2023, konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,603 ribu BPH sementara rata-rata produksi minyak harian kita hanya 580 ribu BPH, atau hanya 36%-nya.

Dalam Halal bihalal Purnawirawan TNI AD di Jakarta, Selasa (6/5), Presiden Prabowo Subianto bertekad mencapai swasembada bahan bakar minyak (BBM) dalam lima tahun yang akan datang.

Ia mengatakan Indonesia tak perlu mengimpor BBM selama masa kepemimpinannya. ***

wwwwww