Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
7 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
6 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
Metropolitan
19 jam yang lalu
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
6 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
6 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
6 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Voli

MITI Minta Pemerintah Cermat dalam Mewajibkan PT BA Prodoksi DME

MITI Minta Pemerintah Cermat dalam Mewajibkan PT BA Prodoksi DME
PT Bukit Asam. (Ist)
Senin, 26 Mei 2025 18:38 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Mulyanto, meminta Pemerintah cermat dalam mewajibkan PT. Bukit Asam (PTBA) untuk memproduksi dimethyl ether (DME), sebagai pengganti gas LPG, khususnya perhitungan ekonominya.

Meski soal pendanaan akan ditangani Danantara, sehingga tidak tergantung pada pihak asing, namun tetap saja kalkulasi ekonominya harus jelas.

Bila tidak akurat dikhawatirkan yang akan menjadi korban adalah rakyat yang menggunakan gas melon LPG tiga kilogram, karena mahalnya harga DME atau subsidi Pemerintah yang membengkak.

“Sebaiknya program DME tersebut tidak dipaksakan. Apalagi dengan ancaman akan diambil sebagian wilayah operasi PTBA. Pemerintah Harus cermat betul. Ia menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan ruang fiskal negara,” jelas Mulyanto.

Menurut Mulyanto, diketahui selama ini data perhitungan ekonomi proses gasifikasi batu bara untuk menghasilkan DME masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga LPG.

"Kalau secara ekonomi tidak menguntungkan jangan dipaksakan. Nanti malah negara harus mengalokasikan subsidi dari APBN untuk produksi DME. Ini sama saja memindahkan beban dari satu kantong ke kantong lainnya,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI periode 2019–2024 itu tidak menampik bahwa ide memproduksi DME dari batu bara memiliki manfaat strategis. Selain dapat menjaga serapan batu bara domestik seiring dengan penutupan PLTU secara bertahap, langkah ini juga dinilai mampu menekan impor LPG serta subsidi untuk gas melon tiga kilogram. Namun ia menegaskan, keputusan investasi tetap harus berdasarkan pada kelayakan teknologi dan keekonomiannya.

Untuk diketahui MIND ID, holding BUMN dari PTBA, menyampaikan bahwa hasil kajian awal menunjukkan biaya produksi DME jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga impor LPG. Temuan ini menimbulkan keraguan terhadap keekonomian proyek DME.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan proyek pengganti gas LPG itu rencananya akan menjadi mandatori atau penugasan wajib ke PT Bukit Asam (PTBA). Kalau tidak tidak mau menjalankan akan diambil sebagian wilayah operasinya. Apalagi sumber pendanaan proyek DME ini sekarang tidak bergantung ke pihak asing, tetapi ditangani Danantara.***

wwwwww