Prof Ardiansyah: Indonesia Perlu Bentuk Generasi Muda Yang Tangguh
![]() |
| Prof. Ardiansyah, Ph.D. saat membuka Mindshare Meetup 4th. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - “Pembangunan manusia tidak cukup dengan infrastruktur atau teknologi. Kita perlu membentuk generasi muda yang tangguh secara emosional dan berdaya secara intelektual” ujar Prof. Ardiansyah, Ph.D. saat membuka Mindshare Meetup 4th yang diselenggarakan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) Universitas Bakrie.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Senin (26/5/2025) ini merupakan bagian dari agenda tahunan LPkM melalui pendanaan hibah internal Universitas Bakrie, dengan tema “Membangun SDM Unggul melalui Knowledge Management dan Ketahanan Mental Generasi Z Menuju Indonesia Emas 2045”.
Fokus utama acara ini adalah mengintegrasikan pengelolaan pengetahuan dan isu kesehatan mental sebagai fondasi membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap menyongsong satu abad Indonesia merdeka.
Prof. Ardiansyah menekankan bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya hadir dalam bentuk pemberdayaan komunitas, tetapi juga melalui penyebaran pemikiran kritis dan reflektif di lingkungan kampus. “Kami ingin membentuk ruang diskusi yang relevan dengan kebutuhan masa depan, dan Gen Z adalah aktor utamanya,” paparnya.
Dipandu oleh moderator Zakiul Fahmi Jailani, S.Kom., M.Sc., kegiatan berlangsung dalam format seminar dan diskusi interaktif yang menghadirkan narasumber dari akademisi dan praktisi.
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Siti Rohajawati, S.Kom., M.Kom., CISDV, yang memaparkan strategi pengelolaan pengetahuan sebagai sarana membangun kecerdasan emosional generasi muda. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan knowledge management ditentukan oleh keterlibatan aktif dalam ekosistem digital yang mendukung proses belajar dan berbagi. “Bukan hanya soal sistem, tapi soal budaya kolaborasi” ungkapnya.
Topik kedua dibawakan oleh Dr. Herbert Sidabutar, Sp.Kj., yang membahas karakteristik kesehatan mental generasi Z dalam konteks tekanan sosial dan digitalisasi. Ia menyoroti perlunya pendekatan yang peka terhadap dinamika emosi dan identitas generasi muda. “Mengenali ciri-ciri stres dan kecemasan di awal dapat membantu mereka lebih siap menghadapi tantangan masa depan” jelasnya.
Sesi terakhir menghadirkan Raden Bambang Syumanjaya, S.Kom., alumni Universitas Bakrie, yang berbagi pengalaman praktik dalam membangun ketahanan emosional melalui pendekatan komunitas. Menurutnya, kekuatan emosional generasi muda tidak bisa dilepaskan dari relasi sosial yang sehat. “Ketahanan mental tumbuh dalam ekosistem yang mendukung, bukan dalam isolasi” katanya.
Diskusi diakhiri dengan perumusan rekomendasi dan refleksi kolektif, menegaskan urgensi kolaborasi lintas bidang untuk menghadirkan solusi implementatif bagi tantangan pembangunan SDM di masa depan. ***
| Kategori | : | Nasional, Umum, DKI Jakarta |













