Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
18 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
18 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
14 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
14 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
14 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Voli

Layanan RSUD Rasidin Padang Disorot Publik, Pasien KIS Meninggal Usai Dianggap Tak Darurat

Layanan RSUD Rasidin Padang Disorot Publik, Pasien KIS Meninggal Usai Dianggap Tak Darurat
Minggu, 01 Juni 2025 19:09 WIB

PADANG – Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang dunia layanan kesehatan. Seorang warga Padang, Sumatera Barat, berinisial DE (44), meninggal dunia setelah tidak mendapatkan penanganan medis dari RSUD Rasidin karena dinilai tidak dalam kondisi “gawat darurat”.

DE, pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS), dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Rasidin oleh keluarganya sekitar pukul 00.15 WIB, Sabtu (31/5/2025), karena mengalami sesak napas yang berat. Sayangnya, harapan untuk mendapat pertolongan pertama tak terpenuhi.

“Kami datang di tengah malam karena kakak saya sesak napas. Tapi petugas bilang kondisinya tidak darurat dan menyuruh kami ke puskesmas,” tutur Yudi, adik korban, penuh kecewa.

Tak ada ambulans. Tak ada perawatan. DE akhirnya dibawa pulang. Pagi harinya, karena kondisinya semakin kritis, keluarga kembali membawanya ke Rumah Sakit Siti Rahmah menggunakan becak motor (bentor). Namun nyawanya tak tertolong.

Direktur RSUD Rasidin Padang, Desy Susanti, mengonfirmasi bahwa pasien sempat datang ke IGD, namun berdasarkan pemeriksaan dokter, tidak dalam kondisi gawat darurat yang membahayakan nyawa.

“Dokter sudah menilai dan menyarankan pasien dirujuk ke puskesmas karena tidak ada kegawatdaruratan medis saat itu,” ujar Desy.

Ia menegaskan seluruh penanganan sudah mengikuti standar prosedur pelayanan BPJS Kesehatan.

Insiden ini langsung menyita perhatian publik. Di media sosial, banyak warga mempertanyakan bagaimana seorang pasien sesak napas tidak dianggap darurat hanya karena standar prosedur. Banyak yang menilai sistem kesehatan saat ini terlalu kaku dan tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Jika sesak napas di tengah malam bukan gawat darurat, lalu apa lagi yang harus terjadi agar dianggap perlu ditolong?” tulis seorang warganet.

“Negara harus hadir untuk rakyat, bukan hanya dengan sistem, tapi dengan empati,” tambah lainnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat atau BPJS Kesehatan mengenai tindak lanjut dan evaluasi atas peristiwa ini.

Tragedi yang menimpa DE menjadi pengingat menyakitkan bahwa dalam sistem kesehatan yang terlalu administratif, nyawa bisa saja kalah oleh prosedur.***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Voli, Ekonomi, Automotif
wwwwww