Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
16 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
16 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
16 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
16 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
17 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
16 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

Misteri Air Keruh dan Ikan Mati di Danau Toba, BRIN Ungkap Ancaman dari Dasar Danau

Misteri Air Keruh dan Ikan Mati di Danau Toba, BRIN Ungkap Ancaman dari Dasar Danau
Selasa, 29 Juli 2025 19:41 WIB

SAMOSIR – Danau Toba kembali menjadi sorotan setelah viral video yang menunjukkan air danau berubah keruh dan ribuan ikan terlihat mengambang tak bernyawa di permukaan. Publik pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di salah satu danau vulkanik terbesar dunia ini?

Peneliti dari BRIN, Dr. Ir. Lukman, M.Si., menegaskan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh pencemaran air dari permukaan atau aliran sungai, melainkan kejadian alami dari dalam danau itu sendiri. 

“Lokasi kejadian berada di Pangururan, perairan yang cenderung tertutup dengan kedalaman sekitar 50 meter. Tidak ada banjir atau sungai keruh, jadi kemungkinan besar ini karena pembalikan massa air dari dasar danau,” jelas Lukman, Selasa (29/7/2025). 

Menurutnya, proses alami bernama turnover atau pembalikan arus membuat air dari dasar danau yang minim oksigen dan mengandung gas beracun seperti H₂S, CO₂, dan CH₄ terdorong ke permukaan. Gas-gas ini bersifat toksik dan mampu membunuh ikan secara masif, terutama yang berada di dalam karamba atau keramba jaring apung.

Proses ini juga diperburuk oleh endapan bahan organik seperti sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap dan mengakibatkan kondisi anoksik (nol oksigen). “Ikan-ikan itu tidak punya ruang untuk kabur. Mereka mati karena tidak bisa bernapas dan teracuni gas dari dasar danau,” ungkapnya.

Dampak jangka pendeknya adalah kematian massal ikan, tetapi efek jangka panjang lebih serius: kerusakan ekosistem dasar danau, eutrofikasi, serta ledakan populasi fitoplankton yang membuat air semakin keruh dan hijau.

BRIN mendesak pemerintah dan pemda di sekitar Danau Toba untuk mengevaluasi tata kelola perikanan karamba yang kini makin padat. Lukman menyarankan pengaturan zonasi, jumlah karamba, teknik budidaya, hingga periodisasi aktivitas budidaya untuk menyesuaikan dengan daya dukung perairan.

“Kita perlu intervensi kebijakan agar Danau Toba tidak terus-menerus dalam kondisi kritis secara ekologi,” pungkasnya.

Fenomena ini bukan hanya ancaman bagi perikanan lokal, tapi juga mencoreng citra Danau Toba sebagai kawasan strategis pariwisata nasional. Diperlukan langkah cepat dan serius agar danau kebanggaan Sumatera Utara ini tetap lestari. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Voli, Lingkungan, Sumatera Utara
wwwwww