Refleksi HUT ke-80 RI, Ketum PITA: Hilangnya Negeri Santun dan Beradab
![]() |
| Ketua Umum Pemuda Indonesia Cinta Tanah Air, Ervan Purwanto. (Ist) |
Senin, 18 Agustus 2025 13:04 WIB
Penulis: Azhari Nasution
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Pada detik-detik proklamasi kemerdekaan, kita percaya dan menyakini bahwa negeri ini berawal dari komitmen akan kebersamaan dan mengedepankan kemanusiaan dan keberadaban. Sehingga, kemerdekaan terpancar melalui kebebasan untuk memilih jalan hidup, hak untuk berbicara tanpa takut, serta kehormatan hidup dalam keberagaman.
Ketua Umum Pemuda Indonesia Cinta Tanah Air (PITA), Ervan Purwanto mengatakan, tanah air yang santun dalam bertutur, lembut dalam bersikap, tegas dalam prinsip, dan adab dalam bertindak terhadap sesama menjadi sebuah idaman.
"Usia 80 tahun RI, kanvasnya berbeda. Negeri yang dulu menjanjikan kedamaian dan tatanan sosial yang rukun perlahan kehilangan sebagian dari sifat itu. Hal-hal yang dulu dianggap wajar, saling menghormati, empati terhadap sesama, taat pada aturan, serta adab dalam berargumentasi mulai terasa seperti barang langka," ujarnya, melalui keterangan tertulis, Senin (18/8/2025).
Menurut Ervan, hilangnya negeri yang santun dan beradab tidak selalu menampakkan dirinya dalam satu peristiwa besar, tapi sering bersembunyi di sela-sela keseharian, di ujung jabat tangan yang tak ramah, di ruang-ruang publik yang sesak oleh ujaran-ujaran tajam, di layar-layar sosial di mana perbedaan pendapat mengubah irama perdebatan menjadi caci maki.
"Kita mungkin berpikir bahwa santun dan beradab hanyalah persoalan etika pribadi. Padahal, ia adalah infrastruktur sosial, cara kita membangun komunikasi, cara kita menegakkan hukum, cara kita mengaku salah dan memperbaiki diri, serta cara kita memahami perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman," tegasnya.
Ia menjelaskan, salah satu sorotan utama adalah bagaimana ruang publik kita, termasuk media dan dialog digital, sering kehilangan aroma kesantunan. Kritik yang sangat diperlukan sebagai mekanisme koreksi negara kadang melompat dari ranah ide ke ranah personal.
"Debat yang seharusnya merangsang pemikiran menjadi ajang menyerang pribadi, tidak jarang memproduksi sikap permisif terhadap kekerasan ujaran. Dalam wacana kemenangan politik, kita menukar etika dialog dengan posisi keras kepala, seakan adab bernegosiasi tidak lagi relevan ketika ide bertabrakan. Hal ini tidak hanya merugikan pihak-pihak yang sedang berunding, tetapi juga merusak fondasi moral bangsa yang menumpu kemerdekaan," bebernya.
Ia menegaskan, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajah fisik, tetapi juga bebas dari kebengisan bahasa.
Hilangnya negeri yang santun juga tampak dalam ketidakadilan yang terus terperpetuasi. Ketika hukum dan hak asasi ditegakkan selektif, keadilan terasa seperti kemewahan bagi sebagian orang. Ketika empati terhadap kaum marginal dipraktikkan secara selektif, kita kehilangan kapasitas untuk melihat keprihatinan orang lain sebagai bagian dari keseimbangan negara.
"Adab sosial, merespons penderitaan orang lain dengan caranya sendiri, tanpa merendahkan, mengikis jarak antara golongan kaya dan miskin, antara kota dan desa, antara yang berkuasa dan yang terpinggirkan. Negeri yang santun tidak membeda-bedakan martabat manusia, meski kita berbeda suku, agama, atau latar belakang budaya. Ini adalah pondasi kemerdekaan, hak untuk hidup secara layak, dihormati, dan diakui," ucapnya.
Ia menuturkan, hilangnya negeri yang santun dan beradab tidak semata-mata karena tindakan individu. Ada dinamika sistemik, disparitas pendidikan, akses informasi yang tidak merata, dan ketidakmampuan institusi publik untuk menyiapkan warga negara yang tidak hanya pandai secara teknis, tetapi juga matang secara moral.
Pendidikan karakter tanpa mengorbankan kebebasan berpikir menjadi sangat penting. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab sosial, rendah hati, dan keadilan harus diajarkan sejak dini, tidak hanya di sekolah formal, tetapi juga di rumah, di tempat kerja, dan di komunitas-komunitas lokal.
Jika kita ingin negeri ini kembali bernapas santun, kita perlu membudayakan dialog yang berakar pada rasa hormat, mengajari diri kita untuk mendengar tanpa buru-buru menyalahkan, serta menyadari bahwa perbedaan adalah pintu untuk memperkaya, bukan penghalang untuk berkolaborasi.
"Kebebasan yang kita rayakan setiap 17 Agustus seharusnya mengintegrasikan tanggung jawab. Kebebasan tanpa adab bisa menjadi anarki, adab tanpa kebebasan bisa menjadi pengekangan," terangnya.
Ervan menjelaskan, negara yang santun adalah negara di mana hukum ditegakkan secara adil, di mana hak setiap individu tidak bisa dilanggar atas nama “kebenaran mayoritas,” di mana pelanggaran tak hanya dihukum, tetapi juga dikoreksi melalui proses yang manusiawi.
'Dalam konteks kemerdekaan ke-80 ini, kita perlu merenungkan bagaimana kita membangun institusi yang mampu menebarkan adab dalam setiap aspek kehidupan, dari antrean di kantor pelayanan publik hingga peraturan yang mengatur penggunaan teknologi dan media sosial, dari kebijakan perlindungan minoritas hingga perlindungan hak pekerja, dari bagaimana pilpres atau pemilu dilaksanakan hingga bagaimana hasilnya diterima dengan lapang dada," ungkapnya.
Lalu bagaimana kita merayakan kemerdekaan ke-80 tanpa hanya menumpuk kenangan indah, tetapi juga mengubah kenyataan? Jawabannya ada pada tindakan nyata yang memulihkan nilai-nilai santun dan beradab.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan, di antaranya, memperkuat pendidikan karakter yang berorientasi pada empati, tanggung jawab, dan kehormatan martabat setiap manusia.
Mendorong etika debat publik, argumentasi yang fokus pada isu, tidak menyerang pribadi, serta sanggup berterima kasih atas masukan, meski tidak setuju.
Memperbaiki akses ke keadilan dan layanan publik, sehingga setiap warga merasa terwakili dan dihormati dalam sistem hukum.
Mendorong media dan platform digital untuk menegakkan norma-norma adab, mengurangi penyebaran kebencian, dan mempromosikan diskursus yang sehat.
Menguatkan budaya kerja sama lintas sektor, baik pemerintah, swasta, LSM, dan komunitas lokal bekerja bersama untuk program-program inklusif yang merangkul semua lapisan masyarakat.
Memelihara bahasa yang santun, mengurangi kekuatan bahasa intimidatif dalam politik dan publik. karena bahasa adalah cermin budaya kita.
Kemudian, mengenang para pejuang kemerdekaan dengan cara yang relevan, tidak hanya menampilkan monument atau kata-kata heroik, tetapi dengan menelusuri jalan-jalan kehidupan yang mereka tempuh pengorbanan, disiplin, integritas, dan solidaritas.
Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan dalam diri setiap warga negara agat negeri ini perlahan akan pulih menjadi tempat yang lebih santun dan beradab.
Ervan menambahkan, 80 tahun kemerdekaan adalah momen reflektif, sebuah kesempatan untuk menanyakan kepada diri sendiri.
"kita telah menjadi bangsa apa dalam tari-tiring langkah kita? Apakah kita masih menjaga gerak hati yang lembut ketika menghadapi perselisihan? Akankah kita membangun kembali negeri ini menjadi tempat yang tidak hanya bebas, tetapi juga beradab dan penuh empati?"
"Semoga kita mampu membangun ulang negeri yang santun, menata ulang dialek-dialek perbedaan menjadi harmoni, dan merancang masa depan yang layak bagi seluruh anak bangsa karena kemerdekaan bukan hanya sebuah tanggal di kalender, melainkan sebuah komitmen terus-menerus untuk menjaga kemanusiaan bersama, di mana pun kita berada, di setiap tindakan yang kita pilih sebagai bagian dari bangsa Indonesia," pungkas Ervan. ***
| Kategori | : | Nasional |













