Tangis, Teriakan, dan Api: Malam Panas di Depan DPR Usai Tragedi Affan
![]() |
| Ilustrasi. Massa melakukan aksi demo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/8/2025). |
JAKARTA – Malam Jumat (29/8/2025) di Senayan berubah jadi lautan emosi. Ribuan massa yang sejak siang memenuhi jalan depan Kompleks DPR/MPR akhirnya menjebol pagar besi di Gerbang 46C. Dentuman keras terdengar saat pagar ambruk, disambut sorak-sorai massa yang tak lagi bisa dibendung.
“Affan tidak sendiri!” teriak sekelompok mahasiswa dengan almamater biru. Nama pengemudi ojol yang tewas sehari sebelumnya, Affan Kurniawan, terus digemakan sebagai simbol perlawanan. Tragedi itu menjadi luka bersama yang memantik solidaritas di jalanan.
Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, berkali-kali menyerukan agar massa mundur. Namun, suara dari pengeras tidak mampu meredam kemarahan. Di tengah asap gas air mata, massa tetap bertahan, sebagian melemparkan petasan, botol, hingga molotov. Api pun berkobar di depan pagar yang jebol, menerangi wajah-wajah penuh amarah.
Dari sisi lain, aparat membalas dengan water canon. Derasnya semprotan air tak membuat massa mundur. Justru teriakan semakin nyaring, lagu perjuangan dinyanyikan, dan spanduk bertuliskan “Keadilan untuk Affan” dikibarkan di antara asap tebal.
Di antara kerumunan, para pengemudi ojol berdiri di barisan depan, memegang helm hijau mereka tinggi-tinggi. “Kami di sini untuk Affan!” kata Andi, salah satu ojol yang ikut aksi.
Hingga menjelang tengah malam, suasana kian panas. Kobaran api besar belum padam, gas air mata makin menyengat, namun massa tetap bertahan. Malam itu, Senayan bukan sekadar arena demonstrasi, melainkan panggung solidaritas yang lahir dari luka dan amarah rakyat. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | bisnis.com |
| Kategori | : | Metropolitan, DKI Jakarta |













