Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
12 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
13 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
3
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
13 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
4
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
9 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
5
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
9 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
10 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Voli

Polemik Calon Sekda DKI, Publik Minta Pramono Gunakan Seleksi Terbuka

Polemik Calon Sekda DKI, Publik Minta Pramono Gunakan Seleksi Terbuka
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Sabtu, 06 September 2025 10:20 WIB

JAKARTA – Wacana Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang disebut-sebut bakal langsung menunjuk Sekretaris Daerah (Sekda) pengganti Marullah Matali tanpa melalui panitia seleksi (pansel) menuai kritik. Publik menilai, mekanisme penunjukan tertutup bisa mencederai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Aktivis Jakarta, Taufik Rendusara, mengingatkan bahwa posisi Sekda sangat strategis karena menjadi pengendali utama birokrasi di lingkungan Pemprov DKI.

“Kalau tidak melalui pansel, ini bisa menjadi preseden buruk bagi komitmen Pramono,” ujarnya, Sabtu (6/9/2025). 

Menurut Taufik, seleksi terbuka bukan hanya soal prosedur administratif, melainkan sarana memastikan integritas dan rekam jejak calon Sekda. Dengan mekanisme itu, publik bisa ikut menilai siapa yang paling layak memimpin birokrasi Jakarta.

“Pansel harus dijalankan supaya prosesnya transparan,” tambahnya. 

Selain soal mekanisme, Taufik juga menyinggung janji politik Pramono. Saat kampanye dan setelah dilantik, Pramono pernah berkomitmen tidak akan membawa aparatur sipil negara (ASN) dari luar daerah untuk mengisi jabatan strategis di Pemprov DKI.

“Janji itu harus ditepati. Warga ingin Sekda dari internal Pemprov, yang paham birokrasi Jakarta dan mampu menjadi jembatan komunikasi dengan DPRD,” tegasnya.

Ia menekankan, Sekda bukan hanya jabatan administratif, melainkan juga posisi yang menentukan legitimasi dan ritme kerja birokrasi. Karena itu, transparansi dalam proses pemilihan menjadi hal penting agar hasilnya tidak memicu polemik. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Voli, DKI Jakarta
wwwwww