Guru di Daerah Terpencil Pertanyakan Program Smart TV 330 Ribu Sekolah
![]() |
| Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari saat ditemui di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/09/2025). (dokumentasi: inilah.com/ harris muda) |
Seorang guru di Nusa Tenggara Timur yang enggan disebutkan namanya mengaku ragu sekolahnya bisa memanfaatkan smart TV sebagaimana yang direncanakan pemerintah. "Listrik di sini masih sering mati. Kadang seminggu bisa tiga sampai empat kali padam. Kalau pakai smart TV, bagaimana bisa dipakai maksimal?" ujarnya.
Hal senada juga dialami sekolah-sekolah di wilayah Kalimantan pedalaman. Beberapa kepala sekolah menyebut, meski program pengadaan perangkat modern terdengar menjanjikan, kenyataannya sarana dasar belum terpenuhi. "Banyak murid kami masih belajar dengan papan tulis sederhana. Sekarang mau dikasih TV pintar, tapi listriknya saja tidak stabil," ungkap seorang kepala sekolah di Kapuas Hulu.
Menanggapi keraguan tersebut, Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, memastikan pemerintah akan menyiapkan solusi. Salah satunya adalah pemanfaatan energi surya di daerah yang belum terjangkau listrik.
"Harus ada cara, termasuk terakhir itu, kalau saya tidak salah, diusahakan agar listriknya bisa pakai tenaga surya," katanya di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).
Qodari menambahkan, meski urusan teknis diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, program ini tidak boleh berhenti di atas kertas. "Niatnya baik, tetapi eksekusinya juga harus baik. Jangan sampai niatnya baik, eksekusinya nggak baik," tegasnya.
Sebelumnya, Prabowo mengumumkan target distribusi smart TV naik dari 100 ribu sekolah menjadi 330 ribu hingga akhir tahun. Ia juga berencana setiap sekolah mendapatkan tiga layar pintar pada 2026. Langkah ini disebut sebagai strategi mengejar ketertinggalan pendidikan, terutama di wilayah dengan keterbatasan guru.
Namun, suara para guru menunjukkan persoalan mendasar yang tak bisa diabaikan: sebelum bicara teknologi canggih, pemerataan listrik dan internet menjadi kunci. Tanpa itu, smart TV berisiko hanya menjadi pajangan di kelas-kelas terpencil. ***













