Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
24 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
2
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
Korporasi
24 jam yang lalu
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
3
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
Sepakbola
24 jam yang lalu
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
4
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
4 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
5
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
3 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  PON

Di Balik Tutupnya 400 Gerai Starbucks, 900 Karyawan Kehilangan Pekerjaan

Di Balik Tutupnya 400 Gerai Starbucks, 900 Karyawan Kehilangan Pekerjaan
ilustrasi.foto: ap/lindsey wasson
Sabtu, 27 September 2025 16:55 WIB
JAKARTA – Langkah restrukturisasi senilai Rp16,7 triliun yang diumumkan Starbucks berbuah pahit bagi ratusan pekerja. Perusahaan kopi raksasa itu memastikan 400 gerai di Amerika Serikat akan ditutup, sekaligus memutuskan hubungan kerja dengan 900 karyawan.

CEO Starbucks, Brian Niccol, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan pada toko-toko yang tidak lagi sesuai dengan harapan pelanggan maupun karyawan, atau memang tidak memberikan keuntungan. "Kami tahu keputusan ini berat, tetapi harus diambil demi kelangsungan bisnis," katanya, Kamis (27/9/2025).

Dari total biaya restrukturisasi US$1 miliar, perusahaan menyiapkan US$150 juta untuk pesangon karyawan. Namun, bagi para pekerja yang bertahun-tahun menggantungkan hidup di balik meja kasir dan mesin espresso, angka itu tidak cukup menghapus ketidakpastian masa depan mereka.

Penutupan gerai ini hanyalah 1% dari 32.000 toko Starbucks di seluruh dunia, tetapi tetap meninggalkan dampak sosial yang besar. Di banyak kota, Starbucks bukan sekadar tempat menjual kopi, melainkan ruang kerja, pertemuan, bahkan simbol ekonomi lokal.

Menurut analis Placer.ai, RJ Hottovy, pergeseran perilaku konsumen sejak pandemi membuat banyak toko kehilangan basis pelanggannya. "Dengan banyak orang pindah dari pusat kota, gerai Starbucks di lokasi itu ikut kehilangan daya tarik," jelasnya.

Selain tekanan dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi, Starbucks juga harus berhadapan dengan persaingan ketat. Kedai independen, rantai baru seperti Blank Street Coffee, serta operator drive-thru seperti Dutch Bros menawarkan alternatif yang lebih murah dan praktis.

Survei UBS menunjukkan lebih dari 70% konsumen mengurangi kunjungan ke Starbucks karena harga yang dinilai terlalu tinggi. Hal ini semakin menekan kemampuan Starbucks menjangkau konsumen berpendapatan menengah ke bawah.

Bagi sebagian orang, tutupnya ratusan toko mungkin hanya angka. Namun, bagi 900 karyawan yang kehilangan pekerjaan, restrukturisasi ini meninggalkan pertanyaan besar: siapa yang akan menanggung dampak sosial dari perubahan arah bisnis raksasa kopi dunia itu. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:PON
wwwwww