Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
23 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
23 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
3
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
23 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
4
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
23 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Voli

Ini Kebijakan Menteri ESDM Bahlil Terkait B50

Ini Kebijakan Menteri ESDM Bahlil Terkait B50
Menteri Bahlil Lahadalia. (Esdm.go.id)
Selasa, 14 Oktober 2025 20:26 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Skema kewajiban pembelian dalam negeri, atau domestic market obligation (DMO) untuk komoditas minyak sawit mentah (CPO) menjadi pertimbangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mnineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.  

Ini sebagai salah satu opsi usulan dalam pelaksanaan mandatori B50, alias campuran BBM solar dengan bahan bakar nabati (biodiesel) berbasis CPO 50 persen pada 2026 mendatang. 

Program B50 dipastikan membutuhkan tambahan pasokan minyak sawit mentah. Makanya, Menteri ESDM Bahlil menawarkan tiga opsi untuk memenuhi kebutuhan CPO di dalam negeri. 

Pertama, dengan memaksimalkan produksi CPO yang ada, lalu dengan membuka lahan baru, atau mengurangi ekspor minyak sawit mentah. 

"Karena pasti kita nambah CPO, kalau nambah CPO hukumnya kalau enggak bikin kebun baru atau intensifikasi, atau sebagian ekspor kita tidak lakukan, kita berlakukan DMO," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (14/10/2025).

Yang pasti, Menteri ESDM Bahlil menyatakan bahwa program B50 akan dimulai pada tahun depan. Jika itu terlaksana, ia mengklaim Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor solar. 

"Kita akan melakukan konversi dari B40 ke B50. Sekarang Ibu Prof Eniya (Dirjen EBTKE Kementerian ESDM) sudah melakukan hitungan tes mesin. Direncanakan semester II 2026 itu mulai kita implementasikan," ungkapnya. 

"Artinya kita tidak lagi impor solar. Sekarang total kebutuhan solar kita impor 4,9 juta (liter). Jadi kalau kita konversi ke B50, itu kita sudah tidak impor lagi," lanjutnya. ***

wwwwww