Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
21 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
15 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
15 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
15 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
15 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
15 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Akademisi Unair: Sanksi IOC ke Indonesia Cermin Tekanan Politik Global, KOI Harus Bergerak Cepat

Akademisi Unair: Sanksi IOC ke Indonesia Cermin Tekanan Politik Global, KOI Harus Bergerak Cepat
Presiden Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) Kirsty Coventry saat dinyatakan terpilih pada Senin (23/6/2025) di Lausanne, Swiss. Coventry merupakan perempuan dan orang Afrika pertama yang menduduki jabatan tersebut.
Minggu, 26 Oktober 2025 17:28 WIB
JAKARTA – Keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjatuhkan sanksi kepada Indonesia akibat pembatalan visa atlet Israel di Kejuaraan Senam Artistik Dunia 2025 memunculkan reaksi dari kalangan akademisi. Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair), Probo Darono Yakti, menilai langkah IOC terlalu tergesa dan sarat dengan tekanan politik global. Ia mendorong Komite Olimpiade Indonesia (KOI) segera mengambil langkah diplomatik untuk menjelaskan posisi Indonesia.

“KOI harus segera melakukan klarifikasi resmi kepada IOC. Tegaskan bahwa keputusan pemerintah mencabut visa atlet Israel bukan tindakan diskriminatif, melainkan keputusan yang dipengaruhi oleh dinamika sosial dan politik dalam negeri,” ujar Probo, Jumat (24/10/2025).

Menurut Probo, respons Indonesia harus bersifat terbuka dan diplomatis agar tidak menimbulkan kesalahpahaman internasional. Ia menilai langkah komunikasi yang dilakukan secara terbuka bisa menghindarkan Indonesia dari tuduhan pelanggaran prinsip non-diskriminasi IOC. “Tanggapi secara proporsional dan jangan emosional. Ini bukan sekadar masalah olahraga, tetapi menyangkut citra dan posisi diplomatik Indonesia di dunia,” ujarnya.

Probo juga menekankan pentingnya peran Kementerian Luar Negeri dalam mengedepankan sport diplomacy atau diplomasi olahraga untuk mengimbangi tekanan politik internasional. “Kemenlu perlu mengedepankan dialog dan menjelaskan bahwa keputusan ini lahir dari prinsip kemanusiaan dan solidaritas terhadap Palestina, bukan kebencian terhadap bangsa tertentu,” jelasnya.

Sebelumnya, IOC menjatuhkan empat sanksi terhadap Indonesia setelah pemerintah menolak kehadiran atlet Israel di ajang Kejuaraan Senam Artistik Dunia yang digelar di Jakarta. Keputusan tersebut diambil pemerintah setelah menerima aspirasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selaku tuan rumah.

Probo menilai, langkah cepat IOC dalam menjatuhkan sanksi menunjukkan adanya standar ganda dalam tata kelola lembaga olahraga internasional. Ia menyinggung bahwa IOC dan FIFA selama ini tidak konsisten dalam menerapkan prinsip keadilan. “IOC cepat sekali bertindak saat Israel protes, tapi mereka diam ketika Palestina diserang. Begitu juga FIFA yang tidak bereaksi ketika AS melarang delegasi Iran hadir di undian Piala Dunia 2026,” katanya.

Menurutnya, lembaga olahraga dunia kerap terjebak dalam tarik menarik kepentingan geopolitik. “Idealnya olahraga menjadi ruang netral yang menjunjung nilai kemanusiaan universal. Tapi faktanya, keputusan-keputusan mereka sering kali tunduk pada kekuatan politik dan ekonomi negara besar,” ujar Probo.

Ia menambahkan, situasi ini harus dijadikan pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi diplomasi olahraga di forum internasional. “Kita perlu punya strategi yang tidak hanya reaktif, tapi juga proaktif. Jangan sekadar merespons sanksi, tapi tunjukkan bahwa Indonesia punya prinsip dan moral politik luar negeri yang konsisten terhadap kemanusiaan,” tegasnya.

Probo menilai, langkah klarifikasi yang disertai komunikasi publik yang kuat akan membantu Indonesia mengembalikan kepercayaan IOC dan memperbaiki posisi diplomatiknya di dunia olahraga internasional. “Olahraga seharusnya menjadi jembatan perdamaian, bukan alat tekanan politik. Di sinilah pentingnya peran KOI dan Kemenlu untuk memperjuangkan narasi Indonesia,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:bisnis.com
Kategori:PON, Non Olympic
wwwwww