Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
21 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
22 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
21 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
21 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
21 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
21 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Voli

Saat Banjir Membawa Kayu-Kayu Raksasa, Warga Bertanya: “Hutan Kami Sedang Diambil Siapa?”

Saat Banjir Membawa Kayu-Kayu Raksasa, Warga Bertanya: “Hutan Kami Sedang Diambil Siapa?”
Kayu gelondongan besar terbawa arus banjir di Sumatera. (antara)
Senin, 01 Desember 2025 15:30 WIB

JAKARTA – Hujan deras dan banjir besar di Sumatera telah merendam rumah, memutus jalan, dan merenggut kehidupan warga. Namun di antara arus keruh dan deras itu, ada pemandangan lain yang tak kalah mengiris hati: gelondongan kayu besar ikut hanyut, menghantam jembatan, dan berputar-putar seperti serpihan kehidupan yang terlepas dari akarnya.

Video yang direkam warga Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah memperlihatkan kayu-kayu itu meluncur tanpa kendali. Bukan hanya sekadar batang tumbang, tetapi gelondongan besar seperti yang biasa terlihat di tempat penebangan. Banyak orang bertanya—dan sebagian marah—karena pemandangan itu terasa seperti bukti nyata kerusakan yang tak lagi bisa ditutupi. 

Kementerian Kehutanan langsung menjadi sorotan. Dirjen Gakkum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, memberikan penjelasan awal bahwa kayu itu bisa berasal dari berbagai sumber: pohon lapuk, pohon tumbang, atau material bawaan sungai. Namun pernyataan itu menuai kontroversi setelah warganet menunjukkan potongan video yang memperlihatkan kayu-kayu yang tampak terpotong rapi.

Dalam klarifikasi terbarunya, Dwi menegaskan bahwa Kemenhut sama sekali tidak menutup kemungkinan terjadinya praktik ilegal.

“Penjelasan kami bukan untuk menafikan adanya aktivitas ilegal. Semua sumber sedang kami telusuri,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Fakta lapangan ikut memperkuat kecurigaan publik. Sepanjang 2025, Gakkum Kemenhut sudah membongkar berbagai kasus besar: kayu ilegal 86 meter kubik di Aceh Tengah, 152 batang kayu di Solok yang diangkut dengan dokumen PHAT bermasalah, hingga ribuan meter kubik kayu bulat dari Mentawai yang diduga dicuci melalui dokumen yang dipalsukan. 

“Kejahatan kehutanan sekarang bukan hanya soal menebang pohon, tetapi menutupi jejaknya lewat dokumen palsu dan alur uang yang rumit,” kata Dwi. 

Sorotan publik juga datang dari parlemen. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, meminta pemerintah membentuk tim investigasi khusus agar asal-usul kayu yang hanyut bisa dibongkar tuntas.

“Ini penting untuk melegakan hati masyarakat dan mengembalikan kepercayaan publik,” katanya. 

Di tengah perdebatan ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan duka mendalam. Namun ia juga melihat bencana ini sebagai cermin besar yang memaksa semua pihak bercermin.

“Semua mata melihat, semua telinga mendengar. Ini bukti ada yang salah dalam pengelolaan lingkungan kita,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa selama ini keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan terlalu jauh bergeser. Eksploitasi bergerak terlalu cepat, sementara pemulihan alam berjalan terlalu lambat.

“Pendulumnya harus ditarik ke tengah lagi,” tegasnya. 

Kini, gelondongan kayu yang hanyut bukan hanya sisa-sisa dari suatu tempat, tetapi penanda bahwa hutan—penjaga kehidupan—sedang terluka. Di balik setiap kayu yang meluncur di arus banjir, ada kisah tentang tanah yang tak lagi kuat menahan hujan, akar yang tak sempat memegang bumi, dan manusia yang harus membayar harga dari kerusakan yang terus dibiarkan.

Banjir membawa air, lumpur, dan kayu. Tapi bagi masyarakat Sumatera, banjir kali ini juga membawa satu pesan pahit: bahwa alam sedang menagih pertanggungjawaban. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Olympic, Nasional, Voli
wwwwww