Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
19 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
23 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
3
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
20 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
24 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
19 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
6
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
19 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Home  /  Berita  /  Voli

Taruna Ikrar Sampaikan Public Lecture di UI: Menguatkan Ekonomi Kesehatan dan Konsep ABG di Era Silver Economy

Taruna Ikrar Sampaikan Public Lecture di UI: Menguatkan Ekonomi Kesehatan dan Konsep ABG di Era Silver Economy
Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menyampaikan Public Lecture di Universitas Indonesia. (Ist)
Senin, 01 Desember 2025 15:21 WIB
Penulis: Azhari Nasution
DEPOK – Kepala Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., kembali ke almamaternya, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, untuk menyampaikan Public Lecture bertema “Ekonomi, Sains, dan Regulasi: Prospek Produk Anti-Penuaan dan Suplemen Kesehatan di Era Silver Economy.”

Kuliah ini menjadi momen istimewa karena selain memberikan wawasan ilmiah strategis, Prof. Taruna juga melakukan reuni hangat 300 an peserta terdiri guru besar, dosen, civitas akademika FFUI, Senin 1 Desember 2025.

Dalam paparannya, Prof. Taruna menekankan bahwa silver economy akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri kesehatan Indonesia.

Dengan proyeksi kontribusi ekonomi sektor obat dan makanan mencapai Rp6.000 triliun, Indonesia berada pada titik penting untuk mengakselerasi inovasi. Pasar farmasi tumbuh 9,8% per tahun, kosmetik anti-aging meningkat hampir 5% per tahun, dan pangan olahan mencapai nilai lebih dari Rp4.349 triliun pada 2025.

“Gelombang usia lanjut adalah peluang. Inovasi dan regulasi yang tepat akan menentukan siapa yang menjadi pemain global,” ujarnya.

Kepala BPOM juga memaparkan potret besar ekosistem industri kesehatan nasional, termasuk 272 industri obat, 208 industri suplemen kesehatan, 143 industri kosmetik, serta lebih dari 500.000 sertifikat IRTP di sektor pangan.

Di balik angka tersebut, UMKM memainkan peran fundamental karena mendominasi 99% unit usaha nasional. BPOM berkomitmen meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu naik kelas melalui pembinaan, sertifikasi, dan digitalisasi layanan perizinan.

Salah satu pesan utama Prof. Taruna adalah pentingnya kolaborasi ABG (Academia–Business–Government) sebagai fondasi pembangunan kesehatan modern.

Akademisi menyediakan riset dan inovasi, industri memastikan produksi dan hilirisasi yang kompetitif, sementara pemerintah memberikan regulasi yang adaptif dan perlindungan konsumen.

“ABG bukan konsep, tapi ekosistem. Jika ABG bergerak dalam satu irama, Indonesia bisa menjadi pusat inovasi anti-aging dan kesehatan Asia,” tegasnya di hadapan para dosen dan mahasiswa FFUI.

Public Lecture ini ditutup dengan momen reuni yang penuh kehangatan, ketika Prof. Taruna menyapa para kolega dan alumni yang pernah berjuang bersama di kampus kuning. Taruna menegaskan bahwa FFUI adalah tempat yang membentuk karakter ilmiahnya.

“Saya kembali bukan hanya sebagai Kepala BPOM, tetapi sebagai alumni yang ingin membangun bangsa bersama UI,” ujarnya.

Acara ini menjadi simbol kuat sinergi ilmu, industri, dan kebijakan menuju Indonesia Emas 2045. ***

wwwwww