Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
22 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
2
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
22 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
9 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
10 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
5
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
KONI
21 jam yang lalu
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
6
Motivasi Tinggi PSIM Yogyakarta Jamu Dewa United FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Motivasi Tinggi PSIM Yogyakarta Jamu Dewa United FC
Home  /  Berita  /  Badminton

Pemprov DKI Targetkan Hingga 167 Ribu Warga Jakarta Keluar dari Kemiskinan

Pemprov DKI Targetkan Hingga 167 Ribu Warga Jakarta Keluar dari Kemiskinan
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) DKI Jakarta. (Ist)
Jum'at, 19 Desember 2025 15:16 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan, pengentasan puluhan ribu warga dari garis kemiskinan dalam lima tahun ke depan.

‎Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan, sebanyak 69,51 ribu hingga 167,27 ribu warga ditargetkan lulus atau graduasi dari status miskin melalui program yang terukur dan berkelanjutan.

‎
‎Komitmen tersebut disampaikan Rano saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) DKI Jakarta Triwulan IV Tahun 2025, di Ruang Rapat Besar Wakil Gubernur, Jumat (19/12/2025).
‎
‎Rano menekankan, penanggulangan kemiskinan tidak bisa diperlakukan sebagai proyek fisik semata. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada pemberdayaan manusia, bukan hanya pembangunan infrastruktur.
‎
‎"Kemiskinan bukan proyek fisik, melainkan menyangkut manusia. Tidak ada artinya membangun infrastruktur jika manusianya tidak kita gerakkan dan berdayakan," ujar Rano.
‎
‎Ia menyebut, meskipun Jakarta memiliki kapasitas fiskal yang kuat dan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang memadai, penurunan kemiskinan hanya akan efektif jika didukung ketepatan sasaran, konsistensi pelaksanaan program, serta koordinasi lintas sektor.
‎
‎Pemprov DKI Jakarta menargetkan, tingkat kemiskinan turun ke kisaran 1,82 persen hingga 2,91 persen pada 2030, sejalan dengan visi RPJMD DKI Jakarta 2025-2029 untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing dan menyejahterakan.
‎
‎Rano menegaskan, penguatan peran TKPK sebagai simpul koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan mitra pembangunan.
‎
‎"Penanggulangan kemiskinan tidak bisa dilakukan sendiri. Harus dikerjakan bersama, lintas sektor, dan saling melengkapi. Dengan koordinasi yang kuat, target graduasi kemiskinan dapat dicapai secara berkelanjutan," tegasnya.
‎
‎Untuk mendukung target tersebut, Pemprov DKI menetapkan tiga prinsip utama, yakni akurasi data, ketepatan intervensi sesuai akar masalah, dan ketepatan waktu penyaluran manfaat. Rano menilai, kelemahan pada salah satu aspek akan menurunkan efektivitas program.
‎
‎Rakorda TKPK juga menyepakati dua fokus utama, yaitu optimalisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk desil 1 hingga 5 serta penguatan konvergensi program lintas sektor. 
‎
‎Dinas Sosial bersama Diskominfotik dan Bappeda tengah menyiapkan platform digital berbasis DTSEN yang ditargetkan mulai digunakan pada awal Januari 2026.
‎
‎Rano optimistis, pemanfaatan platform digital tersebut akan memperkuat kebijakan perlindungan sosial dan mempercepat penurunan kemiskinan secara berkelanjutan.
‎
‎"Data harus kuat. Kalau datanya tidak akurat, intervensinya pasti salah. Karena itu, seluruh perangkat daerah harus menggunakan satu data yang sama. Dengan data terintegrasi, bantuan benar-benar sampai kepada keluarga yang membutuhkan, tepat waktu, dan sesuai kebutuhannya," pungkas Rano. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww