Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
20 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
13 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
13 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
13 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
18 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Nasional

Menteri ESDM Bahlil Sarankan Program Etanol Bisa Dijalankan Tahun 2027

Menteri ESDM Bahlil Sarankan Program Etanol Bisa Dijalankan Tahun 2027
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: Listrikindonesia.com)
Jum'at, 26 Desember 2025 18:30 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kebijakan mandatori pencampuran etanol sebesar 10% ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin atau E10 direncanakan mulai diterapkan pada 2027. Kebijakan ini disiapkan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor BBM.

Menteri ESDM Bahlil menyampaikan rencana tersebut saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri. Ia menjelaskan, impor bensin masih menjadi tantangan, sehingga pengembangan etanol dipandang perlu untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Bensin kita masih impor, karena itu kami sarankan program etanol itu bisa kita jalankan dan produksi 2027,” kata Menteri ESDM Bahlil seperti dilansir listrikindonesia.com, Rabu (24/12/2025).

Selain membahas etanol, Bahlil juga menyinggung prospek kemandirian energi untuk BBM jenis Solar atau diesel. Ia optimistis Indonesia tidak lagi mengimpor Solar mulai 2026, seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur.

Proyek RDMP Balikpapan yang dikelola PT Kilang Pertamina Balikpapan tersebut akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari sebelumnya 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Penambahan kapasitas ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan Solar dalam negeri.

Bahlil menegaskan, meskipun program mandatori biodiesel 50% atau B50 belum dijalankan dalam waktu dekat, pasokan Solar nasional tetap diproyeksikan surplus.

“Tahun depan dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, menambah 100 ribu lebih barrels per day, Solar kita bisa umumkan, sekalipun kita belum dorong untuk B50 itu kita sudah surplus untuk Solar mulai tahun depan Indonesia tidak lagi impor Solar karena antara konsumsi dan produksi kita cukup,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan surplus Solar untuk kebutuhan lain. Menurutnya, kelebihan produksi Solar yang diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton berpotensi dikonversi menjadi bahan baku avtur.

“Kita lagi pikir, kalau kita mau dorong ke B50, maka jumlah Solar yang surplus 4 juta ton itu kita akan konversi untuk membuat produk avtur, sehingga 2026 Solar kita clear dan avtur bisa produksi dalam negeri,” tutup Bahlil. ***

wwwwww