Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
9 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
9 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
13 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Hiburan

Julia Roberts Sebut Remake Pretty Woman Sudah Tak Mungkin Digarap

Julia Roberts Sebut Remake Pretty Woman Sudah Tak Mungkin Digarap
Aktris peraih Oscar Julia Roberts. (Instagram)
Kamis, 08 Januari 2026 23:35 WIB
Penulis: Mambang Yazid
JAKARTA - Aktris peraih Oscar Julia Roberts menilai gagasan membuat ulang film Pretty Woman sebagai sesuatu yang nyaris mustahil. Menurutnya, perubahan zaman dan pergeseran nilai budaya membuat cerita film romantis klasik tersebut sulit diterima jika diproduksi ulang saat ini.

Dalam wawancara dengan Deadline, Julia Roberts mengungkapkan bahwa dirinya telah banyak berubah sejak Pretty Woman dirilis pada 1990. Ia merasa tidak lagi mampu menghadirkan nuansa ringan dan kepolosan yang dulu melekat pada karakter Vivian Ward.

“Saya sudah terlalu banyak membawa pengalaman hidup. Rasanya tidak mungkin lagi ‘melayang’ dalam film seperti itu,” ujar Julia Roberts.

Aktris berusia 58 tahun itu menjelaskan bahwa pengalaman dan pelajaran hidup yang terakumulasi membuatnya sulit kembali memerankan karakter dengan kepolosan tertentu, meski karakter tersebut digambarkan sebagai seorang pekerja seks.

“Bukan dalam arti negatif, tapi semua hal yang kita pelajari sepanjang hidup itu melekat. Sulit untuk kembali memainkan sosok yang benar-benar polos,” katanya.

Julia Roberts juga menyoroti konteks cerita Pretty Woman, yang mengisahkan seorang perempuan dari latar belakang miskin yang kehidupannya berubah setelah bertemu pria kaya. Ia mengakui bahwa sudut pandang tersebut kemungkinan besar akan dipertanyakan oleh penonton masa kini.

Menurutnya, perubahan budaya dari waktu ke waktu memang membuat banyak karya lama terlihat problematis jika ditinjau ulang. Ia membandingkannya dengan film-film era awal Hollywood yang kini kerap dikritik karena nilai-nilai yang tak lagi relevan.

Sebagai contoh, Julia menyebut Gone With the Wind (1939), film klasik yang hingga kini menuai kritik karena penggambaran perbudakan dan stereotip rasial.

Pretty Woman sendiri menjadi salah satu film paling ikonik dalam karier Julia Roberts dan mempertemukannya dengan Richard Gere. Film tersebut sukses besar secara komersial dan budaya, namun menurut Julia, lebih tepat dikenang sebagai produk zamannya. ***

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Hiburan, DKI Jakarta
wwwwww