Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
18 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
12 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
19 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
4
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
10 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
5
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
20 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
6
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
20 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Home  /  Berita  /  Hiburan

Katy Perry Serukan Penolakan Pendanaan Operasi ICE di Amerika Serikat

Katy Perry Serukan Penolakan Pendanaan Operasi ICE di Amerika Serikat
Katy Perry . (Intagram)
Rabu, 28 Januari 2026 00:42 WIB
Penulis: Mambang Yazid
JAKARTA - Penyanyi pop dunia Katy Perry menyerukan kepada masyarakat Amerika Serikat untuk menentang rencana pendanaan lanjutan bagi U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), menyusul meningkatnya operasi penindakan imigrasi di sejumlah kota besar AS.

Dalam beberapa bulan terakhir, agen ICE melakukan penggerebekan di berbagai wilayah sebagai bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump yang berkomitmen memperketat penindakan terhadap imigrasi ilegal.

Seruan Katy Perry disampaikan melalui unggahan Instagram pada Senin (waktu setempat), menyusul insiden penembakan fatal terhadap seorang perawat bernama Alex Pretti oleh agen Patroli Perbatasan AS di Minneapolis, Minnesota, pada akhir pekan lalu.

Melalui sejumlah slide unggahan kepada lebih dari 201 juta pengikutnya, pelantun Firework itu menuliskan ajakan seperti “Turn anger into action” dan mendorong publik untuk menghubungi para senator AS.

“Kita punya waktu hingga Jumat, 30 Januari, untuk memblokir pendanaan sebesar 10 miliar dolar AS, di luar 75 miliar dolar AS yang sudah disetujui, agar tidak dialokasikan ke ICE,” tulis Katy Perry. “Sudah saatnya kemarahan diubah menjadi aksi.”

Dalam unggahan tersebut, Perry juga menyertakan nomor telepon Capitol Hill serta contoh naskah yang dapat digunakan masyarakat saat menghubungi senator mereka. Naskah itu berisi desakan agar anggota parlemen melakukan filibuster terhadap Rancangan Undang-Undang Anggaran Keamanan Dalam Negeri.

“Saya muak melihat warga negara maupun non-warga negara yang sah ditangkap di tempat kerja mereka, diserang dalam aksi damai, ditarik keluar dari kendaraan, hingga ditembak dan dibunuh,” demikian kutipan dari naskah yang dibagikan Perry.

Insiden Alex Pretti tercatat sebagai warga negara AS kedua yang tewas dalam rangkaian operasi ICE di Minnesota dalam bulan ini. Sebelumnya, pada 7 Januari, seorang perempuan bernama Renée Good juga dilaporkan tewas ditembak agen ICE saat berada di dalam mobilnya.

Pemerintah federal dan aparat penegak hukum menyatakan penembakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, insiden ini memicu kritik dari sejumlah pejabat lokal.

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dan Gubernur Minnesota Tim Walz secara terbuka meminta Presiden Trump mengakhiri kehadiran ICE di wilayah tersebut. Menanggapi hal itu, Trump mengonfirmasi telah melakukan pembicaraan dengan otoritas setempat.

“Saya baru saja melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Wali Kota Jacob Frey. Banyak kemajuan yang dicapai,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Ia juga menyebut bahwa Kepala Kebijakan Perbatasan AS, Tom Homan, akan bertemu langsung dengan Frey untuk melanjutkan pembahasan.

Hingga kini, perdebatan terkait pendanaan ICE dan metode penegakan hukum imigrasi masih terus menjadi isu sensitif dalam politik domestik Amerika Serikat. ***

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Hiburan, DKI Jakarta
wwwwww