Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
23 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
14 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
3
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
23 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
4
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
6 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
9 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Madura United FC Boyong 23 Pemain Hadapi PSM
Sepakbola
24 jam yang lalu
Madura United FC Boyong 23 Pemain Hadapi PSM
Home  /  Berita  /  Badminton

Pemerhati Jakarta Dorong Perbaikan Sistem Penanganan Banjir Jakarta

Pemerhati Jakarta Dorong Perbaikan Sistem Penanganan Banjir Jakarta
Pemerhati Jakarta sekaligus Wakil Ketua Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan.
Kamis, 29 Januari 2026 13:24 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pemerhati Jakarta sekaligus Wakil Ketua Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan menilai, penanganan banjir Jakarta tidak cukup mengandalkan modifikasi cuaca karena bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.

Azas menyebut, dampak banjir yang paling terasa adalah kemacetan lalu lintas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terdapat sekitar 50 ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut, kata dia, memperparah kemacetan yang selama ini sudah menjadi persoalan kronis ibu.

‎
‎Ia menegaskan, pemerintah perlu melakukan pemetaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab genangan di tiap titik, mulai dari saluran air yang tersumbat, kapasitas drainase yang tidak memadai, hingga sistem pengaliran air yang tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.
‎
‎"Modifikasi cuaca itu seperti doping. Boleh sesekali, tapi bukan solusi utama. Yang dibutuhkan Jakarta adalah kemampuan menangani banjir secara permanen," ujar Azas di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).
‎
‎Menurutnya, persoalan utama banjir Jakarta terjadi karena air hujan tidak mengalir lancar ke laut dan tidak terserap optimal ke dalam tanah. 
‎
Ia menyoroti, sistem drainase Jakarta yang sudah berusia tua dan dirancang untuk kondisi iklim masa lalu, sementara saat ini intensitas hujan semakin tinggi akibat perubahan iklim.
‎
‎"Drainase yang ada sudah tidak kuat. Kapasitasnya harus ditambah dan teknologinya diperbarui agar sesuai dengan karakter hujan sekarang," katanya.
‎
‎Selain itu, Azas juga mengkritisi pesatnya pembangunan yang mengurangi ruang terbuka hijau dan wilayah resapan air, termasuk pembangunan di kawasan pesisir. 
‎
Menurutnya, alih fungsi lahan di pantai memperparah banjir rob karena ruang gerak air laut semakin sempit dan terdorong masuk ke daratan.
‎
‎Ia mencontohkan sejumlah kawasan seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Cengkareng yang dinilai turut memberi tekanan pada sistem pengendalian banjir Jakarta. 
‎
‎"Pembangunan di pesisir harus bertanggung jawab dan tidak membebani Jakarta," ucapnya.
‎
‎Azas mendorong, pemerintah untuk mulai serius mengembangkan solusi jangka panjang, seperti pembangunan dan penyempurnaan terowongan air (tunnel), perbaikan sistem keluar-masuk air laut, serta pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang dirancang adaptif terhadap perubahan iklim.
‎
‎Ia berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan pengalaman selama musim hujan intensif ini sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pengendalian banjir Jakarta secara menyeluruh dan berkelanjutan.
‎
‎"Teknologinya harus disiapkan dengan benar dan disesuaikan dengan perkembangan alam serta cuaca. Jangan terus-menerus mengandalkan cara instan yang justru berpotensi mengganggu keseimbangan alam," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww