SOKRAS Gaungkan "Distorsi Melawan Diam", Kritik Sosial Jadi Roh Musik
![]() |
| Para personel SOKRAS. (Ist). |
Minggu, 15 Februari 2026 19:31 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Band punk rock asal Jakarta, SOKRAS menegaskan, sikapnya di tengah dinamika musik independen dengan mengusung slogan "Distorsi Melawan Diam". Konsep tersebut menjadi identitas utama yang membedakan mereka di kancah musik alternatif Ibu Kota.
Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho menilai, SOKRAS hadir bukan sekadar sebagai band dengan musik keras, tetapi membawa pesan yang jelas.
"Distorsi yang mereka usung bukan hanya soal sound gitar, melainkan simbol keberanian bersikap. Sedangkan diam mereka maknai sebagai bentuk kepasrahan terhadap realitas sosial yang menekan," ujar Agung dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Nama SOKRAS sendiri merupakan plesetan dari istilah "sok keras" yang kerap digunakan sebagai sindiran. Namun, menurut Agung, istilah itu justru diolah menjadi identitas yang kuat.
"Mereka membalik stigma menjadi pernyataan sikap. ‘Sok keras’ dimaknai sebagai keberanian untuk tetap bersuara meski dicibir atau diberi label negatif," katanya.
SOKRAS diperkuat oleh lima personel, yakni Ivan Panji (Gitar 1), Nur Iman (Gitar 2), Danu (Bass), Saep (Vokal), dan Mirza Diananda (Drum). Formasi dua gitar menghasilkan riff yang padat dan agresif, dengan dukungan bass yang tebal serta tempo cepat dari drum khas urban punk rock. Di lini depan, Saep membawakan lirik-lirik lugas dengan karakter vokal yang kuat dan langsung.
Langkah awal mereka ditandai dengan perilisan single "PARTAI BANDIT" yang disebut sebagai kritik terhadap partai-partai di Indonesia. Agung menilai keberanian mengangkat tema sosial dan politik menunjukkan konsistensi arah bermusik mereka.
"Ini bukan sekadar lagu. Mereka mencoba menyuarakan keresahan publik melalui medium musik," tegasnya.
SOKRAS menyatakan telah menyiapkan sembilan lagu orisinal dan satu lagu cover dengan fokus lirik pada isu propaganda, manipulasi, dan pembungkaman suara publik. Vokalis SOKRAS, lanjut Agung, bahkan menegaskan bahwa musik harus menjadi sarana perlawanan, bukan hanya hiburan semata.
Dari sisi visual, SOKRAS juga membangun identitas yang kuat melalui logo bergaya grunge dengan lingkaran merah, bintang kuning, dan cap tangan stencil. Simbol tersebut dimaknai sebagai satire terhadap ikonografi kekuasaan dan propaganda, dengan warna merah melambangkan perlawanan serta kuning merepresentasikan suara yang mencolok dan sulit diabaikan.
Menurut Agung, di tengah arus komersialisasi musik alternatif, SOKRAS berupaya mengembalikan punk rock pada ruh awalnya sebagai suara perlawanan.
"Mereka ingin memastikan bahwa distorsi bukan sekadar bunyi, tetapi pernyataan sikap," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | PON |













