Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
18 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
18 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
18 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
18 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
18 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
18 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  PON

SOKRAS Gaungkan "Distorsi Melawan Diam", Kritik Sosial Jadi Roh Musik

SOKRAS Gaungkan Distorsi Melawan Diam, Kritik Sosial Jadi Roh Musik
Para personel SOKRAS. (Ist).
Minggu, 15 Februari 2026 19:31 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Band punk rock asal Jakarta, SOKRAS menegaskan, sikapnya di tengah dinamika musik independen dengan mengusung slogan "Distorsi Melawan Diam". Konsep tersebut menjadi identitas utama yang membedakan mereka di kancah musik alternatif Ibu Kota.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho menilai, SOKRAS hadir bukan sekadar sebagai band dengan musik keras, tetapi membawa pesan yang jelas. 

‎
"Distorsi yang mereka usung bukan hanya soal sound gitar, melainkan simbol keberanian bersikap. Sedangkan diam mereka maknai sebagai bentuk kepasrahan terhadap realitas sosial yang menekan," ujar Agung dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
‎
‎Nama SOKRAS sendiri merupakan plesetan dari istilah "sok keras" yang kerap digunakan sebagai sindiran. Namun, menurut Agung, istilah itu justru diolah menjadi identitas yang kuat. 
‎
‎"Mereka membalik stigma menjadi pernyataan sikap. ‘Sok keras’ dimaknai sebagai keberanian untuk tetap bersuara meski dicibir atau diberi label negatif," katanya.
‎
‎SOKRAS diperkuat oleh lima personel, yakni Ivan Panji (Gitar 1), Nur Iman (Gitar 2), Danu (Bass), Saep (Vokal), dan Mirza Diananda (Drum). Formasi dua gitar menghasilkan riff yang padat dan agresif, dengan dukungan bass yang tebal serta tempo cepat dari drum khas urban punk rock. Di lini depan, Saep membawakan lirik-lirik lugas dengan karakter vokal yang kuat dan langsung.
‎
‎Langkah awal mereka ditandai dengan perilisan single "PARTAI BANDIT" yang disebut sebagai kritik terhadap partai-partai di Indonesia. Agung menilai keberanian mengangkat tema sosial dan politik menunjukkan konsistensi arah bermusik mereka. 
‎
‎"Ini bukan sekadar lagu. Mereka mencoba menyuarakan keresahan publik melalui medium musik," tegasnya.
‎
‎SOKRAS menyatakan telah menyiapkan sembilan lagu orisinal dan satu lagu cover dengan fokus lirik pada isu propaganda, manipulasi, dan pembungkaman suara publik. Vokalis SOKRAS, lanjut Agung, bahkan menegaskan bahwa musik harus menjadi sarana perlawanan, bukan hanya hiburan semata.
‎
‎Dari sisi visual, SOKRAS juga membangun identitas yang kuat melalui logo bergaya grunge dengan lingkaran merah, bintang kuning, dan cap tangan stencil. Simbol tersebut dimaknai sebagai satire terhadap ikonografi kekuasaan dan propaganda, dengan warna merah melambangkan perlawanan serta kuning merepresentasikan suara yang mencolok dan sulit diabaikan.
‎
‎Menurut Agung, di tengah arus komersialisasi musik alternatif, SOKRAS berupaya mengembalikan punk rock pada ruh awalnya sebagai suara perlawanan.
‎
‎"Mereka ingin memastikan bahwa distorsi bukan sekadar bunyi, tetapi pernyataan sikap," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:PON
wwwwww