Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
9 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
10 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
13 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Timnas Sepakbola Terancam Tidak Tampil di Asian Games 2026, NOC Indonesia Lakukan Perlawanan

Timnas Sepakbola Terancam Tidak Tampil di Asian Games 2026, NOC Indonesia Lakukan Perlawanan
Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari. (Gonews.co Group)
Jum'at, 20 Februari 2026 20:09 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) memastikan tidak akan tinggal diam menyikapi ancaman absennya Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Indonesia di ajang Asian Games 2026. Ketua  NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/2/2026).  

Okto, panggilan karibnya, berjanji akan melakukan upaya diplomasi untuk melawan regulasi baru yang dinilai janggal dan merugikan kedaulatan olahraga negara-negara Asia. Hal itu juga sudah disampaikan Okto kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir.

Seperti diketahui Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) dan Dewan Olimpiade Asia (OCA) memunculkan kebijakan baru. Keduanya sepakat membatasi kepesertaan hanya bagi negara yang lolos ke Piala Asia U-23 2026 dan Piala Asia Wanita 2026.

Dengan adanya kebijakan itu, peluang timnas sepakbola Indonesia akan terancam untuk berlaga pada ajang pesta olahraga empat tahunan negara Asia yang akan digelar di Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026.

Menurut Okto, format pembatasan tanpa proses kualifikasi terbuka ini sebagai hal yang tidak lazim dalam tradisi pesta olahraga multievent sebesar Asian Games. "Secara informal saya laporkan kepada Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA. Biasanya di Asian Games itu kan semuanya ikut," katanya.

Okto juga menyoroti minimnya sosialisasi terkait perubahan mendadak ini. Ia mempertanyakan apakah kebijakan tersebut diambil karena keterbatasan tuan rumah atau faktor teknis lainnya. Namun, ia menekankan bahwa setiap aturan harus berlandaskan prinsip keadilan (fairness).

Dijelaskan Okto, membatasi peserta sepakbola adalah langkah kontraproduktif. Pasalnya, cabang olahraga ini memiliki basis massa terbesar yang menjadi daya tarik utama dan "nyawa" dari setiap penyelenggaraan ajang olahraga internasional.

​Dalam perjuangannya ini, NOC Indonesia tidak bergerak sendirian. Komunikasi intensif terus dijalin dengan Presiden OCA serta komite olimpiade negara-negara Asia lainnya yang merasakan dampak serupa. "Dukungan dari Menpora juga menjadi modal penting bagi kami untuk mendesak peninjauan ulang atas kebijakan tersebut," tegasnya.

​Okto menegaskan bahwa tuan rumah maupun konfederasi tidak boleh bertindak semena-mena dalam menentukan regulasi tanpa mempertimbangkan aspirasi federasi negara peserta. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menyuarakan keberatan ini agar marwah kompetisi tetap terjaga dan inklusif bagi seluruh anggota.

"Banyak pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan ini bersama federasi negara lain di Asia," tandasnya. ***

wwwwww