Fenomena Tawuran Sarung Mengancam Nyawa, Perlindungan Keluarga Mesti Ditingkatkan
![]() |
| Ilustrasi perang sarung yang dilakukan remaja-remaja saar bulan Ramadhan.(foto: generated by gemini ai/kompas.com) |
JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memperingatkan masyarakat mengenai bahaya tawuran berkedok perang sarung yang menelan korban jiwa hingga gegar otak selama bulan suci. Insiden tersebut dinilai sebagai alarm keras atas hilangnya ruang berekspresi serta rentannya kondisi sosial keluarga di kawasan padat penduduk.
Lahan terbuka di perkampungan kini banyak disulap menjadi area parkir maupun pabrik. Kondisi ini membuat ruang gerak menyempit sehingga energi generasi muda tidak tersalurkan dengan baik.
"Ini adalah sinyal darurat dari krisis ruang bermain, lemahnya pengawasan, dan gagalnya lingkungan memfasilitasi energi anak-anak kita," urai Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, Sabtu (28/2/2026).
Aksi saling serang memakai kain tersebut dipandang sebatas puncak gunung es dari persoalan yang lebih dalam. Terdapat faktor risiko kerentanan ekonomi keluarga, tingginya angka putus sekolah, perceraian, hingga masalah kesehatan mental (mental health). Penguatan payung hukum melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengasuhan Anak sangat diperlukan agar penanganan tidak berantakan dan terlambat merespons situasi.
"Kita tidak boleh terkecoh. Perang sarung hanyalah puncak gunung es dari persoalan lama yang tak kunjung selesai," ungkapnya.
Kelelahan orang dewasa setelah bekerja dan melaksanakan salat tarawih turut menciptakan celah pengawasan di rumah. Energi anak justru memuncak saat menanti waktu sahur, mendorong mereka mencari pelampiasan di jalanan secara komunal.
"Kekosongan pengawasan di celah waktu inilah yang memicu anak-anak mencari penyaluran energi sendiri di jalanan," paparnya.
Rumah ibadah di permukiman padat diharapkan tidak sekadar menjadikan kelompok rentan ini sebagai penerima takjil atau zakat. Sering kali mereka justru diusir karena dianggap berisik, tanpa dilibatkan dalam perencanaan kegiatan ibadah secara bermakna.
"Akibatnya, takmir dan donatur sering kali menutup mata. Mereka gagal paham. Tentu tidak semua masjid atau musholla seperti itu," jelasnya.
Perubahan pola pikir di tengah masyarakat sangat krusial agar momen puasa bisa dimanfaatkan untuk mengarusutamakan isu perlindungan generasi penerus. Anak yang tampak tertib menerima takjil di sore hari bisa saja terjerumus kekerasan jelang pagi jika lingkungan abai.
"Kita harus mengubah cara pandang (mindset) ibadah dan zakat kita. Para donatur dan pengurus masjid harus menaikkan level kepeduliannya," sambungnya.
Jika satu kelompok anak dibiarkan tidak terurus dalam sistem sosial, dampaknya dipastikan akan mengintai keamanan seluruh anak di lingkungan tersebut.
"Mari jadikan Ramadan ini sebagai titik balik pemulihan ghirah dan jiwa anak," tambahnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kompas.com |
| Kategori | : | Olympic, Nasional, DKI Jakarta |













