Pramono Dorong Pelestarian Kuliner Betawi Lewat Tradisi Ngaduk Dodol di Setu Babakan
![]() |
| Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, Fauzi Bowo atau Bang Foke. (Ist). |
Jum'at, 06 Maret 2026 20:20 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mendorong, pelestarian kuliner khas Betawi melalui dukungan terhadap pelaku usaha dodol tradisional. Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Ngaduk Dodol Betawi di Dodol Nyak Mai, Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Pram turut melihat langsung proses pembuatan dodol tradisional yang masih mempertahankan cara memasak secara turun-temurun. Ia bahkan ikut mengaduk dodol bersama para perajin dan tokoh Betawi yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, Fauzi Bowo atau Bang Foke.
"Barusan saya diundang sekaligus mengaduk dodol dan rupanya tidak ringan. Saya terkesan sekali karena bagi warga Betawi, dodol ini sebenarnya bagian dari konsep gotong royong," kata Pramono dalam keterangan tertulis.
Proses pembuatan dodol Betawi secara tradisional memang membutuhkan waktu panjang, sekitar delapan hingga sepuluh jam. Adonan yang terdiri dari tepung beras ketan, gula merah, santan kelapa, dan garam dimasak dalam kuali besar menggunakan api kayu bakar hingga menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa manis khas.
Dodol Nyak Mai sendiri merupakan usaha kuliner legendaris di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Usaha tersebut dirintis oleh Nyak Mai pada awal 1990-an dan kini diteruskan generasi kedua, Mpok Djuanih dan Bang Udin.
Pramono mengaku, telah mencicipi dodol produksi usaha tersebut dan menilai rasanya memiliki ciri khas yang kuat.
"Saya sudah pernah mencoba dodol Nyak Mai ini, memang luar biasa enak. Kenyalnya pas dan manisnya juga tidak berlebihan," ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan terus mendorong pengembangan usaha kuliner tradisional seperti Dodol Nyak Mai. Dukungan itu, menurutnya, dapat dilakukan melalui modernisasi peralatan produksi tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
"Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya," tutur Pramono.
Pemprov DKI juga membuka peluang memberikan bantuan peralatan produksi serta penguatan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi para perajin dodol.
"Nanti saya minta Kepala Dinas UMKM untuk mempelajari ini dan menyiapkan dukungan yang diperlukan. Hal seperti ini memang perlu pemerintah daerah turun tangan agar para pelaku usaha menjadi lebih berdaya," jelasnya.
Selain itu, Pramono mendorong agar kuliner Betawi memiliki kemasan dan strategi pemasaran yang lebih menarik sehingga dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Jakarta. Ia bahkan berencana menjadikan Dodol Nyak Mai sebagai salah satu sajian dalam berbagai acara resmi di Balai Kota.
"Kuliner Betawi sebenarnya banyak yang enak, tetapi belum dipasarkan dengan baik. Kita perlu membuat kemasan yang lebih menarik agar siapa pun yang datang ke Jakarta bisa mencoba dodol ini," bebernya.
Dodol Betawi dikenal sebagai "kue gotong royong" karena proses pembuatannya biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam jumlah besar. Tanpa bahan pengawet, dodol tradisional ini dapat bertahan sekitar dua hingga tiga minggu jika disimpan dengan baik.
Sementara itu, Fauzi Bowo mengapresiasi perhatian Pemprov DKI Jakarta terhadap pelestarian budaya Betawi, khususnya di kawasan Setu Babakan.
"Atas nama masyarakat Betawi, khususnya di Setu Babakan, saya mengucapkan terima kasih karena perhatian Gubernur Pramono begitu besar. Saat ini juga sedang dilakukan perbaikan jalan di sekitar situ yang akan menambah kenyamanan pengunjung," terang Foke.
Ia menilai, kegiatan ngaduk dodol tersebut tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi sarana mempromosikan kuliner khas Betawi kepada masyarakat luas.
"Dodol ini merupakan bagian dari budaya kuliner Betawi. Dengan kegiatan ini, Gubernur Pramono ikut mempromosikan kuliner Betawi," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













