Azas Tigor: Longsor TPST Bantar Gebang Alarm Serius Pengelolaan Sampah Jakarta
![]() |
| Pemerhati Jakarta yang juga Wakil Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan. (Ist). |
Kamis, 12 Maret 2026 17:09 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Gunungan sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, kembali longsor dan menimbun truk pengangkut sampah serta pekerja di lokasi pembuangan. Peristiwa ini dinilai menjadi alarm keras bagi pengelolaan sampah Jakarta yang selama ini masih mengandalkan penumpukan di tempat pembuangan akhir.
Pemerhati Jakarta sekaligus Wakil Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan menilai, kejadian longsor gunungan sampah yang berulang menunjukkan sistem pengelolaan sampah Jakarta sudah lama bermasalah dan tertinggal dari kota-kota lain di dunia.
"Sejak awal pengelolaan sampah di Bantar Gebang hanya menumpuk sampah Jakarta hingga menjadi gunungan besar yang rapuh, mudah longsor, dan rawan kebakaran," kata Tigor dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3/2026).
Ia mengungkapkan, pada 8 Maret 2026 gunung sampah kembali runtuh dan menimpa truk yang sedang membuang sampah beserta para pekerja di lokasi tersebut. Peristiwa itu dilaporkan menimbulkan korban, dengan sejumlah orang tertimbun material sampah.
Menurut Tigor, pola pengelolaan yang hanya mengangkut dan menumpuk sampah telah berlangsung sejak awal berdirinya tempat pembuangan tersebut pada akhir 1980-an. Sampah dari ibu kota, lanjutnya, selama ini hanya dibuang tanpa pengolahan yang signifikan sehingga menumpuk menjadi gunungan setinggi puluhan meter.
"Akibatnya sampah terus menggunung dan menimbulkan bahaya longsor karena hanya ditumpuk tanpa pengolahan yang memadai," ujarnya.
Data menunjukkan, kawasan pembuangan sampah seluas sekitar 120 hektare itu setiap hari menampung sekitar 7.500 hingga 8.000 ton sampah dari Jakarta. Ketinggian tumpukan sampah bahkan dilaporkan mencapai 40 hingga 50 meter, bahkan hingga 70 meter di beberapa titik.
Selain potensi longsor, Tigor juga menyoroti dampak lingkungan dari tumpukan sampah tersebut, seperti air lindi yang mencemari tanah dan sumber air warga serta bau menyengat yang dapat tercium hingga radius beberapa kilometer.
Ia menilai, pemerintah perlu segera mengubah pendekatan pengelolaan sampah dari sekadar menumpuk atau membakar menjadi sistem yang lebih modern dan berkelanjutan.
Sebagai perbandingan, Tigor mencontohkan pengelolaan sampah di Kota Taipei, Taiwan, yang telah meninggalkan praktik pembakaran sampah sejak awal 2000-an dan beralih ke sistem daur ulang serta pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
"Jakarta perlu belajar dari kota-kota yang berhasil mengelola sampah secara ramah lingkungan. Sampah seharusnya diolah menjadi barang berharga, bukan hanya ditumpuk menjadi gunungan yang berbahaya," pungkas dia. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Olympic, Lingkungan, DKI Jakarta |













