SGY: Water Purifier PAM Jaya Solusi Air Minum Tanpa Sampah Plastik
![]() |
| Water purifier PAM Jaya. (Ist) |
Rabu, 18 Maret 2026 21:23 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) menilai, inovasi water purifier yang dikembangkan PAM Jaya menjadi solusi strategis dalam menghadirkan air minum aman, efisien, dan ramah lingkungan di masa depan.
Hal ini disampaikan SGY dalam acara EZY TV Podcast Series yang digelar di Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2026), dengan tema "Wiater Purifier PAM Jaya, Inovasi Air Masa Depan: Dari Udara hingga Tanpa Plastik."
Menurut SGY, kebutuhan air minum aman di wilayah perkotaan seperti Jakarta terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, serta keterbatasan sumber air baku yang berkualitas.
"Air minum yang aman merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat," kata SGY, melalui keterangan tertulis, Rabu (18/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam konteks tersebut, inovasi teknologi seperti water purifier menjadi solusi penting untuk memastikan ketersediaan air minum yang higienis dan siap konsumsi kapan saja.
SGY menambahkan, teknologi water purifier bekerja melalui sistem penyaringan berlapis, mulai dari karbon aktif, ultrafiltrasi, hingga reverse osmosis, yang mampu menghilangkan bakteri, virus, partikel berbahaya, serta kandungan logam berat.
"Dengan teknologi ini, masyarakat dapat memperoleh air minum yang aman langsung dari sumber air yang tersedia di rumah," katanya.
Ia menegaskan, standar kualitas air minum telah diatur secara ketat melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 serta Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum, yang mewajibkan air memenuhi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Dalam praktiknya, sebagian masyarakat masih mengandalkan air tanah, air permukaan, maupun air hujan yang memerlukan pengolahan lanjutan sebelum layak dikonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan water purifier di tingkat rumah tangga menjadi solusi rasional, terutama di masa transisi menuju layanan air minum langsung dari keran.
Selain aspek kesehatan, SGY menyoroti pentingnya inovasi ini dalam mendukung pelestarian lingkungan. Ketergantungan terhadap air minum dalam kemasan dinilai telah berkontribusi besar terhadap timbulan sampah plastik.
"Penggunaan water purifier dapat mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan, sehingga membantu menekan produksi sampah plastik sekali pakai," ungkapnya.
Ia mengingatkan, pengurangan sampah plastik telah menjadi agenda nasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017.
Selain itu, inovasi kemasan ramah lingkungan berbasis kertas dinilai menjadi alternatif penting dalam mendukung sistem konsumsi berkelanjutan. Kemasan tersebut lebih mudah terurai dan dapat didaur ulang dibandingkan plastik.
Lebih lanjut, SGY mengungkapkan, kebutuhan air baku Jakarta saat ini masih didominasi oleh Waduk Jatiluhur sekitar 92 persen, sementara sisanya berasal dari sungai dan sumber lain. Untuk mencapai target pelayanan air bersih 100 persen pada 2029, dibutuhkan pasokan air sekitar 32.950 liter per detik.
Sejak pengambilalihan pengelolaan air pada 2023, cakupan layanan PAM Jaya meningkat dari 59,53 persen menjadi sekitar 80,24 persen pada 2026. Jumlah pelanggan juga naik dari 948.594 menjadi sekitar 1,17 juta sambungan rumah.
Di sisi infrastruktur, panjang jaringan pipa bertambah dari 12.195 kilometer menjadi 16.234 kilometer dalam tiga tahun terakhir. Sementara tingkat kehilangan air (non-revenue water) ditargetkan turun dari 46,2 persen menjadi 30 persen pada 2029.
Untuk mendukung keberlanjutan pasokan air, SGY menilai perlu adanya pengembangan sumber air baku alternatif, seperti desalinasi air laut, pengolahan air limbah, hingga proyek strategis seperti pembangunan terowongan bawah tanah dan tanggul laut raksasa (giant sea wall).
"Seluruh inovasi ini menunjukkan bahwa masa depan penyediaan air minum akan terintegrasi antara teknologi, kebijakan, dan kesadaran lingkungan," ucapnya.
SGY menuturkan, kombinasi penguatan infrastruktur, penggunaan pipa food grade, pemanfaatan water purifier, serta peralihan ke kemasan ramah lingkungan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem air minum yang aman, berkelanjutan, dan minim plastik di Jakarta.
"Ini bukan sekadar wacana, tetapi keniscayaan yang bisa diwujudkan secara bertahap dan terukur," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Korporasi, DKI Jakarta |













