Dinamika Konflik Iran dan Geopolitik Dunia Dibahas dalam Seminar Internasional UIA
![]() |
| Seminar Internasional bertajuk "Dinamika Konflik Global dan Tanggung Jawab Moral Dunia Islam: Refleksi Atas Perkembangan Terbaru Iran" yang digelar di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA). |
Rabu, 29 April 2026 13:56 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA), Dailami Firdaus menekankan, pentingnya penguatan literasi kritis dan pemahaman geopolitik kepada generasi muda agar konflik di Timur Tengah tidak berdampak pada stabilitas nasional Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Internasional bertajuk "Dinamika Konflik Global dan Tanggung Jawab Moral Dunia Islam: Refleksi Atas Perkembangan Terbaru Iran" yang digelar di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), Jalan Raya Jatiwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).
Menurut Dailami, bangsa Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim harus mampu menyikapi konflik global secara bijak dan menjaga persatuan nasional. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terbawa arus konflik internasional yang berpotensi memicu perpecahan di dalam negeri.
"Siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana sikap kita ke depannya sebagai bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam untuk menjaga agar bangsa ini tetap utuh. Jangan sampai kita terpengaruh lebih dalam sehingga konflik tersebut bergeser atau berdampak ke Indonesia," kata Dailami.
Senator DPD RI dari Dapil DKI Jakarta ini menilai, peran pemerintah dan lembaga pendidikan sangat penting dalam mencegah munculnya konflik pemikiran di tengah masyarakat. Edukasi dan penguatan pemahaman menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi muda yang rasional dan tidak mudah terprovokasi.
"Pada akhirnya, peperangan ini sebetulnya berkaitan dengan upaya hegemoni pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan pemahaman dan kecerdasan kepada para mahasiswa. Kalian harus mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah," ungkapnya.
Dailami menegaskan, pihaknya tidak berada dalam ranah politik praktis untuk mendukung pihak tertentu, melainkan berfokus pada upaya edukasi masyarakat, khususnya mahasiswa, berdasarkan nilai konstitusi dan kepentingan nasional.
"Kami berupaya mengedukasi masyarakat, khususnya mahasiswa. Dari diskusi ini hasilnya luar biasa, banyak ide-ide yang murni dan sangat baik, yang tentu bisa mencerahkan para peserta serta mendorong akademisi untuk turut berbicara berdasarkan dasar konstitusi dan demi kepentingan Indonesia," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam, Din Syamsuddin menyampaikan, analisis mengenai dinamika konflik yang melibatkan Iran dan kekuatan global. Ia menilai, konflik yang terjadi tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga dimensi ideologis dan teologis yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
"Suka atau tidak, episentrum peradaban dunia telah bergeser, dan Barat sedang mengalami penurunan. Pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia ke kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika geopolitik global saat ini," terangnya.
Ia juga menyoroti ketahanan nasional Iran yang dinilai kuat karena didukung tradisi pendidikan dan intelektual yang panjang serta penanaman nilai spiritualitas kepada generasi muda sejak Revolusi Iran 1979. Menurutnya, faktor sejarah, budaya, dan pendidikan tersebut membentuk karakter bangsa yang tangguh dalam menghadapi tekanan geopolitik.
Melalui seminar ini, para akademisi dan mahasiswa diharapkan dapat memperluas perspektif mengenai konflik global sekaligus memperkuat sikap moderat, rasional, dan berlandaskan kepentingan nasional dalam menyikapi perkembangan internasional. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Umum |













