Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Badminton

Pemprov DKI Perkuat Pengolahan Sampah Organik di Pasar Tradisional

Pemprov DKI Perkuat Pengolahan Sampah Organik di Pasar Tradisional
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Ist).
Senin, 11 Mei 2026 12:06 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memperkuat upaya pengolahan sampah dari sumber dengan meninjau pengolahan sampah organik berbasis teknologi hidrotermal di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026).

Teknologi tersebut dinilai mampu menjadi solusi percepatan pengelolaan sampah organik di pasar tradisional karena memangkas waktu pengolahan dari metode konvensional tujuh hingga 10 hari menjadi hanya sekitar dua jam.

‎
‎Dalam peninjauan tersebut, Pram menekankan pentingnya inovasi pengelolaan sampah di tingkat sumber untuk mengurangi beban sampah yang selama ini dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurutnya, teknologi hidrotermal menjadi terobosan karena tidak hanya mempercepat proses penguraian sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomis.
‎
‎"Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis," kata Pram.
‎
‎Teknologi hidrotermal bekerja dengan memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran. Pemprov DKI Jakarta mendorong penerapan teknologi ini sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sampah dari sumber, terutama di pasar tradisional yang setiap hari menghasilkan volume besar sampah organik.
‎
‎Hasil uji coba pada April 2026 menunjukkan pengolahan sampah di Pasar Kramat Jati menghasilkan capaian signifikan. Sebanyak 1.708,1 kilogram sampah organik berhasil diolah menjadi 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi waktu mencapai 80 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
‎
‎Selain pupuk cair, proses pengolahan juga menghasilkan residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik. Menurut Pramono, hasil tersebut membuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis inovasi dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
‎
‎"Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya," ujarnya.
‎
‎Pasar Kramat Jati dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki volume sampah organik yang tinggi. Pasar tersebut memiliki 1.803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah per hari. Dari jumlah itu, sekitar 75 hingga 80 persen merupakan sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, hingga makanan.
‎
‎Pram mengingatkan, pengelolaan sampah organik yang tidak optimal berpotensi memicu pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga gangguan kesehatan bagi warga sekitar. Karena itu, menurutnya, pasar tradisional harus memainkan peran lebih besar dalam mengurangi timbulan sampah kota.
‎
‎"Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan," ucapnya.
‎
‎Peninjauan pengolahan sampah di Pasar Kramat Jati juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang mulai diterapkan pada 10 Mei 2026. Pram menegaskan keterlibatan masyarakat, pedagang, pengelola pasar, hingga pemangku kepentingan menjadi faktor utama keberhasilan pengelolaan sampah dari sumber.
‎
‎"Gerakan pilah sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar permasalahan sampah di Jakarta dapat ditangani secara lebih efektif," tegasnya.
‎
‎Pemprov DKI Jakarta bersama Perumda Pasar Jaya menargetkan perluasan konsep pasar hijau melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, dan berkelanjutan. 
‎
Pram menambahkam, pengelolaan sampah tidak lagi sekadar membuang limbah, melainkan mengubahnya menjadi aset yang memiliki manfaat ekologis maupun ekonomis.
‎
‎"Ini bukan sekadar upaya membuang sampah, melainkan mengubah limbah menjadi aset yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen terus menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan demi mewujudkan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww