Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
6 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
5 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
5 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
12 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Home  /  Berita  /  Automotif

Abaikan Tekanan Sosial, Peneliti Tegaskan Keputusan Berbasis Intuisi Hasilkan Hidup Sejahtera

Abaikan Tekanan Sosial, Peneliti Tegaskan Keputusan Berbasis Intuisi Hasilkan Hidup Sejahtera
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa intuisi dan keterhubungan dengan diri sendiri (self-connection) menjadi kunci kesejahteraan psikologis. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Senin, 08 Juni 2026 07:19 WIB

JAKARTA - Tuntutan sosial dan harapan lingkungan sekitar seringkali memaksa seseorang menekan suara hatinya sendiri. Publikasi ilmiah European Journal of Psychology justru membongkar fakta bahwa keputusan yang sekadar menuruti tekanan eksternal tanpa menyelaraskan kondisi batin sangat merugikan kesejahteraan psikologis.

Rilis data dari Psychology Today, Minggu (7/6/2026) menyoroti pentingnya keterhubungan diri. Individu yang sukses membangun koneksi internal ini tercatat menguasai aktualisasi diri, vitalitas, serta kemampuan menyelesaikan masalah yang jauh lebih tangguh.

"Kesadaran terhadap perasaan saja tidak cukup," tegas peneliti dalam pemaparan jurnal tersebut, menuntut masyarakat mengubah pola pikir pasif menjadi tindakan nyata.

Peneliti menyoroti urgensi menjadikan penerimaan batin sebagai kompas utama kehidupan. Temuan ini berjalan beriringan dengan teori dual process yang digagas peraih Nobel, Daniel Kahneman, mengenai sistem berpikir otomatis yang kerap disepelekan.

Melawan Dominasi Rasionalitas

Banyak pihak terlalu mengagungkan pertimbangan rasional, padahal sistem berpikir cepat justru bergerak cerdas memanfaatkan memori emosional. Kajian neurosains memperkuat argumen ini dengan melampirkan bukti bahwa intuisi sangat bergantung pada sinyal fisik tubuh, bukan sekadar produk hitung-hitungan otak.

Sensasi fisik seperti nafas yang terasa ringan atau perut tidak nyaman bertindak sebagai alarm alami tubuh. Istilah medis merujuknya sebagai interosepsi. Uji coba terkontrol jurnal PLOS One memvalidasi bahwa peserta yang menjalani latihan pengenalan sinyal internal selama tiga hari sukses menurunkan gangguan kecemasan mereka secara signifikan.

Guna menghindari jebakan ekspektasi palsu, peneliti menyarankan publik agar rutin meluangkan waktu mencatat pengalaman intuisi hariannya. Membuka pagi hari dengan keheningan total tanpa gangguan layar ponsel dinilai menjadi langkah awal yang absolut. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Automotif
wwwwww