Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
7 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
7 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Nasional

Wakil Ketua KPK Bongkar Modus Pria Belanja Ani-ani Demi Hindari PPATK

Wakil Ketua KPK Bongkar Modus Pria Belanja Ani-ani Demi Hindari PPATK
Ilustrasi (net)
Senin, 08 Juni 2026 06:10 WIB

JAKARTA - Upaya menyembunyikan uang hasil kejahatan sering kali membawa pelaku korupsi pada jalan buntu. Ketika sistem perbankan nasional semakin ketat, para koruptor yang didominasi oleh kaum pria mencari saluran alternatif yang jauh dari pantauan hukum, salah satunya dengan mendekati perempuan muda.

Dinamika psikologis ini dipaparkan langsung oleh lembaga antirasuah dalam agenda sosialisasi penguatan integritas dan praktik antikorupsi di Pengadilan Negeri Purwokerto. Data menunjukkan ketimpangan gender yang sangat mencolok dalam profil pelaku.

"Biasanya pelakunya banyak laki-laki, Pak. 81% laki-laki," sebut Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo.

Dilema Uang Tunai di Tangan Koruptor

Proses pencucian uang umumnya dimulai dengan mendistribusikan hasil korupsi kepada keluarga, mulai dari istri hingga anak. Sebagian juga dialokasikan untuk amal. Namun, kepanikan melanda saat tumpukan uang tunai masih tersisa dan pelaku bingung mencari tempat penyimpanan yang aman.

Ketakutan terbesar mereka bukan pada aparat penegak hukum di lapangan, melainkan pada radar Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang bisa melacak setiap transaksi mencurigakan.

"Bingung dia. Kemana uang Rp 1 miliar ini? Kalau ditaruh kolong, takut dimakan kecoa. Kalau ditaruh di tabungan takut sama PPATK. Ini paling ditakuti," paparnya.

Munculnya Tren Ani-ani sebagai Solusi Pencucian Uang

Kebuntuan akibat pengawasan PPATK tersebut melahirkan modus baru. Uang panas yang tidak bisa masuk ke bank akhirnya dialirkan untuk membiayai perempuan muda atau mahasiswi, yang di tengah masyarakat sering diistilahkan sebagai ani-ani.

Modus operandi ini berjalan mulus karena transaksi dilakukan secara tunai atau melalui pembiayaan kebutuhan sehari-hari yang seolah-olah terlihat wajar. Pendekatan ini juga didorong oleh ego pelaku yang ingin diakui eksistensinya.

"Ngelihat dia yang cantik-cantik di sana. Mulai cari yang bening-bening. Didekati adinda kuliah? Dimana kuliah kamu adinda? Hai mas, sapa si cewek itu. Dipanggil mas padahal sudah tua, kemudian dia (si cewek) bilang, mas kan masih muda," tambahnya menggambarkan pola hubungan tersebut. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:liputan6.com
Kategori:Nasional
wwwwww