Dolar AS Menguat, Jakarta Institute: Dinas PPKUKM Harus Perkuat Ketahanan UMKM
![]() |
| Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho. (Ist) |
Selasa, 09 Juni 2026 08:53 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi tantangan bagi perekonomian nasional. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak akibat meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho mengatakan, gejolak nilai tukar tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi makro. Dampak yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha di lapangan justru perlu mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah.
"Ketika dolar menguat, UMKM menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat justru melemah. Akibatnya, pelaku usaha menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus," kata Agung, Selasa (9/6/2026).
Agung menjelaskan, sebagian besar UMKM memiliki keterbatasan modal dan bergantung pada perputaran kas harian. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan dibandingkan perusahaan besar yang memiliki cadangan keuangan lebih kuat.
"Banyak UMKM tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Sedikit saja terjadi gejolak ekonomi, keuntungan mereka langsung tergerus. Bahkan dalam kondisi tertentu, ada yang terpaksa mengurangi produksi atau menunda pengembangan usaha," ujarnya
Melihat situasi tersebut, Agung mendorong Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta untuk mengambil langkah yang lebih adaptif dalam memperkuat ketahanan pelaku UMKM.
Menurutnya, program pemberdayaan yang selama ini dijalankan perlu diperluas, tidak hanya berfokus pada pelatihan dan promosi produk, tetapi juga membantu pelaku usaha memahami perubahan ekonomi dan mengelola risiko bisnis.
"Dinas PPKUKM DKI Jakarta perlu mengambil peran yang lebih strategis. UMKM membutuhkan pendampingan yang membantu mereka memahami perubahan ekonomi, mengantisipasi risiko, dan menemukan peluang usaha di tengah situasi yang tidak menentu," terangnya.
Agung menjelaskan, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus menjadi salah satu prioritas pengembangan UMKM di Jakarta. Teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memperluas akses pasar.
"Saat biaya usaha terus meningkat, efisiensi menjadi kunci. AI dan teknologi digital dapat membantu UMKM mengelola keuangan, membaca tren pasar, menyusun strategi pemasaran, hingga meningkatkan produktivitas usaha. Ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan," tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya penguatan rantai pasok lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang rentan terdampak fluktuasi nilai tukar.
"Selama UMKM masih bergantung pada bahan baku impor, setiap pelemahan rupiah akan selalu menjadi ancaman. Karena itu, penguatan kemitraan dengan produsen lokal dan pengembangan produk substitusi impor harus menjadi agenda jangka panjang," bebernya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan sektor UMKM seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan atau program yang diselenggarakan pemerintah, melainkan dari kemampuan pelaku usaha untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi.
"Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah ketika UMKM tetap produktif, mampu menjaga lapangan kerja, dan terus tumbuh meskipun ekonomi sedang menghadapi gejolak. Di situlah peran pemerintah benar-benar dirasakan oleh masyarakat," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Ekonomi, DKI Jakarta |













