Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
18 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
18 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
18 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
18 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
17 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
17 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Basket

Mengintip Peluang Pemerintahan Bersatu Palestina Pasca Penyerahan Senjata Hamas

Mengintip Peluang Pemerintahan Bersatu Palestina Pasca Penyerahan Senjata Hamas
Wakil Kepala Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzouk. (Foto: alquds.com)
Rabu, 17 Juni 2026 18:53 WIB

JAKARTA – Masa depan persenjataan Hamas di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia. Kelompok pejuang tersebut menyatakan bahwa penyerahan aset militer hanya akan dilakukan kepada otoritas Palestina yang bersatu sebagai langkah konkret menuju kemandirian politik.

Wakil Kepala Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzouk menjelaskan bahwa upaya pelucutan senjata oleh pihak asing tanpa fondasi politik yang kuat hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan. Hal ini ia sampaikan saat merespons tekanan internasional terkait pembubaran sayap militer mereka, Rabu (17/6/2026).

"Senjata hanya dapat diserahkan kepada pihak Palestina, baik itu Otoritas Nasional Palestina maupun negara Palestina yang nantinya akan hadir di Gaza. Senjata tidak akan pernah diserahkan kepada Israel, struktur yang berafiliasi dengannya, ataupun AS," ungkap Musa Abu Marzouk kepada media RIA Novosti.

Ia menambahkan, tanpa adanya pemerintahan tunggal yang kuat, upaya paksa pelucutan senjata justru akan memicu malapetaka baru bagi rakyat Palestina. Marzouk mencontohkan kegagalan kebijakan AS di Irak yang membubarkan institusi resmi negara, yang akhirnya justru memicu perang saudara dan kekacauan panjang.

Sementara itu, peta politik internal Palestina saat ini sedang diuji. Penyerahan senjata kepada satu otoritas tunggal diharapkan dapat menjadi perekat bagi hubungan Hamas dan Fatah di Tepi Barat. Namun, rencana ini berhadapan dengan proposal perdamaian AS yang telah mendapat dukungan di Dewan Keamanan PBB pada pertengahan November lalu.

Proposal tersebut mencakup pembentukan pemerintahan internasional sementara dan dewan perdamaian yang dipimpin Donald Trump. Meski didukung 13 dari 15 anggota DK PBB, implementasi rencana tersebut masih diragukan oleh banyak pihak, termasuk Rusia, karena tingginya intensitas ketegangan di lapangan antara Israel dan Hamas.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Basket
wwwwww