DPR Restui Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun Hadapi Tantangan 2027
![]() |
| Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. |
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus memantapkan transformasi tata kelola fiskal guna menghadapi tantangan ekonomi tahun 2027. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari parlemen setelah Komisi XI DPR RI menyetujui pagu indikatif Kemenkeu tahun anggaran 2027 sebesar Rp49,8 triliun.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan anggaran jumbo itu disiapkan untuk menjaga stabilitas, kualitas layanan publik, hingga transformasi ekonomi yang inklusif. Besaran usulan ini disesuaikan dengan anggaran tahun 2026 melalui skema efisiensi.
"Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional terkait efisiensi anggaran dan penajaman belanja, di mana kementerian/lembaga perlu mengoptimalkan sumber daya di tengah kebutuhan yang semakin meningkat," terang Purbaya di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Rincian Alokasi Dana Triliunan
Anggaran tersebut dibagi untuk memuluskan lima program utama Kemenkeu yang masuk ke dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Berikut rincian utamanya:
- Fungsi pelayanan umum mendapat porsi terbesar yakni Rp45,519 triliun.
- Fungsi pendidikan dialokasikan Rp3,996 triliun.
- Fungsi ekonomi disiapkan sebesar Rp284,71 miliar.
Hapus Sekat Antar Instansi
Reformasi birokrasi di tubuh kementerian turut menjadi fokus. Purbaya sukses mengurangi silo atau sekat antarsatuan kerja yang selama ini memperlambat koordinasi, khususnya antara Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
"Jadi dulu banyak silo-silo, sekarang kita buka silo-silo itu agar direktorat bekerja lebih cepat. Misalnya dulu pajak dan bea cukai itu susah banget kerja samanya, sekarang sudah bisa dibereskan," jelasnya.
Ketahanan Fundamental Ekonomi
Fundamental ekonomi domestik menunjukkan kekuatan yang solid. Ekonomi nasional pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen.
Kinerja keuangan pemerintah juga gemilang. Hingga akhir Mei 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen. Dari sisi belanja negara menyentuh angka Rp1.365,4 triliun yang meningkat 34,4 persen. Sementara realisasi pembiayaan tercatat Rp379,4 triliun. Pemerintah turut memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan fiskal darurat.
Kualitas layanan turut membanggakan karena Indeks Kepuasan Pengguna Layanan naik dari 4,46 pada 2024 menjadi 4,7 pada 2025. Transparansi keuangan juga terjaga dengan raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK untuk ke-15 kalinya berturut-turut.
"Kuatnya fundamental ekonomi domestik dan didukung kebijakan yang semakin solid menjadi landasan yang kokoh untuk menyongsong dinamika pada tahun 2027," pungkasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | KONI, DKI Jakarta |













