Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
5 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
5 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
5 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Umum

Dies Natalis ke-56 Tahun, IKJ Berkomitmen Cetak Kreator Global Tanpa Kehilangan Jati Diri Budaya

Dies Natalis ke-56 Tahun, IKJ Berkomitmen Cetak Kreator Global Tanpa Kehilangan Jati Diri Budaya
Dies Natalis IKJ ke-56 tahun.
Jum'at, 26 Juni 2026 13:41 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menegaskan komitmennya memperkuat peran sebagai pusat pengembangan seni dan kebudayaan yang mampu melahirkan generasi kreator berdaya saing global tanpa kehilangan akar budaya.

Komitmen tersebut mengemuka dalam puncak perayaan Dies Natalis ke-56 IKJ di Kampus IKJ, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).

‎
‎Rektor IKJ, Syamsul Maarif mengatakan, selama 56 tahun IKJ telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Kampus seni tersebut, kata dia, menjadi ruang lahirnya gagasan, kreativitas, dan karya seni yang berkontribusi bagi bangsa.
‎
‎"IKJ menjadi penjaga rasa, imajinasi, dan kedalaman budaya di tengah perubahan zaman," kata Syamsul.
‎
‎Ia mengutip pesan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menyebut IKJ bukan sekadar kampus seni, melainkan bagian dari perjalanan dan memori kebudayaan Indonesia. Menurutnya, seni dan budaya merupakan ruh yang memberi jiwa bagi Jakarta dalam mewujudkan visi sebagai kota global sekaligus pusat kebudayaan.
‎
‎"Tanpa seni, Jakarta hanyalah kumpulan bangunan dan infrastruktur. Dengan seni, Jakarta menjadi kota yang hidup, mampu mengingat, merasakan, mengkritik, dan membayangkan masa depannya," tegasnya.
‎
‎Syamsul menjelaskan, pengembangan ekosistem seni di Jakarta kini terpusat di Taman Ismail Marzuki yang melibatkan IKJ, Akademi Jakarta, dan Pusat Kesenian Jakarta. Momentum Dies Natalis ke-56, lanjutnya, juga bertepatan dengan peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta.
‎
‎Mengusung tema Creative Knowledge and Global Presence Leading to Artpreneur, IKJ menekankan pentingnya penguatan pengetahuan, riset, inovasi, serta kemampuan beradaptasi di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
‎
‎Menurut Syamsul, kehadiran di panggung global tidak sekadar berarti tampil di tingkat internasional, melainkan membawa identitas budaya Indonesia kepada dunia.
‎
‎"Karya yang mendunia lahir dari kejujuran terhadap identitas budaya sendiri," ujarnya.
‎
‎IKJ, lanjut dia, juga berkomitmen mengembangkan pendidikan berbasis karya, penelitian, inovasi, penguatan hak kekayaan intelektual (HKI), perluasan jejaring internasional, kolaborasi industri, hingga kewirausahaan kreatif agar lahir kreator yang unggul secara artistik sekaligus mandiri secara ekonomi.
‎
‎Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, hampir enam dekade IKJ telah menjadi salah satu ruang paling penting dalam perkembangan seni modern Indonesia.
‎
‎Menurutnya, ribuan seniman, sineas, aktor, sutradara, desainer, penari, musisi, animator, kurator, hingga pekerja budaya lahir dari kampus tersebut dan memberi kontribusi besar terhadap pemajuan kebudayaan nasional.
‎
‎"IKJ memegang peran yang sangat strategis sebagai pusat imajinasi, pusat ekspresi, serta pusat pembentukan generasi seni, budaya, dan kreatif," ucap Fadli.
‎
‎Ia menilai, tema Dies Natalis tahun ini sangat relevan menghadapi tantangan disrupsi teknologi dan kompetisi industri budaya global. Karena itu, menurutnya, Indonesia harus tampil sebagai sumber gagasan, nilai, dan narasi peradaban, bukan hanya menjadi pasar budaya dunia.
‎
‎Fadli juga kembali memperkenalkan konsep cultural mega diversity yang menggambarkan kekayaan budaya Indonesia. Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta lebih dari 17 ribu pulau dengan keragaman budaya yang tidak tertandingi.
‎
‎Ia mengungkapkan, Kementerian Kebudayaan terus mempercepat pendataan dan perlindungan warisan budaya. Hingga kini tercatat 743 cagar budaya nasional, meningkat signifikan dibanding sekitar 200 saat dirinya mulai menjabat sebagai Menteri Kebudayaan. Selain itu, jumlah warisan budaya tak benda telah mencapai 2.727.
‎
‎Menurut Fadli, budaya tidak boleh dipahami sebatas seni. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, terdapat sepuluh objek pemajuan kebudayaan, mulai dari bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, pengetahuan tradisional, permainan tradisional, teknologi tradisional, adat istiadat, hingga seni.
‎
‎Ia berharap, IKJ terus memperkuat perannya sebagai pusat pengetahuan budaya dan inkubator industri kreatif melalui riset artistik, dokumentasi karya, inkubasi bisnis seni, jejaring internasional, hingga ruang regenerasi seni urban.
‎
‎"Teruslah menjadi laboratorium seni dan peradaban Indonesia, menjadi ruang menjaga kebebasan kreatif, memperkuat pengetahuan, melahirkan karya, membangun ekosistem, serta membuka jalan bagi masa depan kebudayaan Indonesia," tutur Fadli.
‎
‎Pada kesempatan yang sama, mantan Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Gita Wirjawan menekankan, kejayaan suatu peradaban bergantung pada kemampuannya menggabungkan kekuatan pelestarian tradisi dengan inovasi.
‎
‎Menurut Gita, peningkatan kapasitas kognitif menjadi faktor utama agar sebuah bangsa mampu terus berkembang. Ia menilai pendidikan harus menumbuhkan tiga unsur penting, yakni ambisi, imajinasi, dan kemampuan menciptakan peluang (smart luck), sehingga generasi muda mampu melahirkan inovasi tanpa meninggalkan akar budaya.
‎
‎"Perpaduan antara inovasi dan pelestarian budaya menjadi fondasi penting agar Indonesia mampu membangun peradaban yang berdaya saing di tingkat global," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Umum
wwwwww