Fadli Zon: Indonesia Masih Kekurangan Institut Seni
![]() |
| Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. |
Jum'at, 26 Juni 2026 14:02 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menilai, Indonesia masih kekurangan institusi pendidikan tinggi seni. Menurutnya, keberadaan institut seni perlu diperluas hingga hampir di setiap provinsi sebagai upaya memperkuat ekosistem kebudayaan nasional sekaligus mencetak sumber daya manusia di sektor budaya dan industri kreatif.
Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri perayaan Dies Natalis ke-56 Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Jumat (26/6/2026).
"Kita ini masih kekurangan sebenarnya. Harusnya hampir di setiap provinsi ada institut seni, karena ini unik," kata Fadli.
Ia menyebut saat ini Indonesia baru memiliki beberapa perguruan tinggi seni, seperti Institut Seni Indonesia (ISI), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), serta salah satu sekolah tinggi seni di Surabaya.
Menurut Fadli, perguruan tinggi seni di Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditemukan di negara lain. Meski secara umum mungkin tidak berada di peringkat teratas dalam pemeringkatan perguruan tinggi, ia meyakini institusi seni dan budaya Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia pada bidang yang lebih spesifik.
"Kalau seni budaya, mungkin kita bisa termasuk yang di tier satu karena sangat unik dan sangat khas," ujarnya.
Fadli menegaskan, pendidikan seni saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan teknik berkarya, tetapi juga harus membekali mahasiswa dengan berbagai kompetensi yang dibutuhkan di era industri kreatif global.
Kompetensi tersebut meliputi literasi budaya, literasi artistik, literasi digital, literasi hak kekayaan intelektual (HAKI), hingga literasi ekosistem yang mendorong kolaborasi dengan komunitas, industri, pemerintah, dan jejaring internasional.
Menurutnya, kombinasi berbagai literasi tersebut akan membentuk cultural and creative knowledge, yakni kemampuan mencipta karya, membaca perkembangan zaman, serta membangun keberlanjutan ekosistem budaya.
Ia juga menekankan bahwa seni dan kebudayaan kini telah menjadi bagian dari rantai nilai global. Karena itu, pendidikan seni harus mulai mengarah pada penguatan ekonomi budaya dan industri budaya sebagai sektor strategis.
Fadli mengungkapkan, secara global industri budaya dan kreatif menyumbang sekitar 4,3 triliun dolar Amerika Serikat atau sekitar 6 persen terhadap perekonomian dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan telah berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi global.
"Artinya, kebudayaan sudah merupakan bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi global," katanya.
Sebagai contoh, Fadli menyinggung perkembangan industri film Indonesia yang dinilainya terus menunjukkan kemajuan. Menurut dia, sektor tersebut menjadi salah satu bukti bahwa lulusan perguruan tinggi seni memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan industri budaya nasional maupun pasar global. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Umum |













