Saling Serang AS dan Iran Terhenti Lewat Kesepakatan Darurat
![]() |
| Ilustrasi AS dan Iran (net) |
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menahan diri dan menghentikan sementara permusuhan bersenjata di kawasan Teluk Persia. Delegasi Washington dan Teheran dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di Doha, Qatar, Selasa (30/6/2026) besok. Keputusan cepat ini bertujuan mencegah eskalasi meluas menjadi perang terbuka.
Media berbasis di AS, Axios melaporkan, Senin (29/6/2026), kedua belah pihak sepakat menyetop seluruh aktivitas kinetik dan operasi militer setelah baku tembak sengit sepanjang akhir pekan kemarin.
Pertemuan di Qatar sebenarnya menggeser rencana awal di Swiss yang difokuskan pada kelanjutan program nuklir Iran. Pergeseran fokus pembicaraan ini dilakukan demi menyelamatkan jalur pelayaran dunia di Selat Hormuz.
Ketegangan mencuat akibat beda tafsir implementasi Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang ditandatangani elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, 18 Juni lalu.
Dalam klausul kesepakatan damai itu, Iran wajib menjaga keamanan navigasi Selat Hormuz dengan kompensasi AS mencabut total blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, Teheran mewajibkan kapal asing melapor kepada militer mereka sebelum melintas, yang memicu protes AS terkait prinsip kebebasan bernavigasi.
Situasi pecah Kamis (25/6/2026) saat kapal tanker afiliasi Qatar diserang di Selat Hormuz. Militer AS membalas lewat gempuran udara ke fasilitas milik Iran di Sirik dan Pulau Qeshm.
"AS tidak akan ragu menggunakan opsi militer pamungkas untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah kami mulai," ancam Presiden AS Donald Trump. Ia bahkan menegaskan siap melenyapkan rezim Republik Islam Iran jika tidak patuh pada kesepakatan damai tersebut.
Satu jam pasca ancaman itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan balasan masif. Kawanan drone dan rudal balistik menghujani delapan fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, dan markas Armada Kelima AS di Bahrain, Minggu (28/6/2026) pagi.
Insiden subuh tersebut memaksa sistem pertahanan udara Kuwait dan Bahrain bekerja ekstra, serta membuat Iran membatalkan sepihak pembicaraan teknis hari Minggu kemarin.
Padahal, dalam pertemuan di Swiss pekan lalu yang dihadiri Wakil Presiden AS JD Vance, kedua negara telah setuju membangun jalur komunikasi langsung antara militer AS dan IRGC. Sayangnya, jalur komunikasi darurat itu belum sempat aktif ketika baku tembak terjadi.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Basket |












