Ledakan Tanker Guncang Selat Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras AS
![]() |
| Penampakan Selat Hormuz dan pesisir Fujairah di Dubai, Uni Emirat Arab dalam peta. (foto: tangkapan layar google map) |
JAKARTA - Insiden ledakan dua kapal tanker di kawasan selatan Selat Hormuz, Senin (20/7/2026), memicu sengketa tajam antara militer Iran dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sekaligus menggugurkan kesepakatan damai jangka panjang yang sempat diteken kedua belah pihak melalui mediasi Pakistan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh militer Amerika Serikat memberikan tekanan hingga memaksa kedua kapal melintasi rute berbahaya. Pihak IRGC menegaskan, jalur tersebut tidak akan aman untuk pengiriman logistik seperti gas, minyak, maupun pupuk selama Amerika Serikat tidak menghentikan agresinya di wilayah tersebut.
"Oleh karena itu militer AS harus bersiap menghadapi pembalasan atas tindakan ilegal dan melanggar hukum itu," tekannya dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) turut memverifikasi adanya insiden maritim di kawasan terkait. UKMTO melaporkan sebuah kapal mengalami kebakaran di perairan barat laut Kumzar, Oman, dengan radius delapan mil laut, namun penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan.
Merespons rentetan ketegangan ini, Presiden AS, Donald Trump membenarkan adanya serangan militer Amerika Serikat ke sejumlah titik di Iran hingga menyebabkan kerusakan parah. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan langkah balasan atas melayangnya nyawa personel Amerika Serikat yang bertugas di Timur Tengah.
"Kami serang lagi mereka dengan sangat keras malam ini dan kami melakukannya demi tiga, bukan dua, patriot hebat yang gugur," paparnya di Pangkalan Militer Gabungan Andrews, Maryland, Minggu (19/7/2026).
Ia juga kembali mengutarakan penolakannya terhadap potensi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Ia mengklaim bahwa Washington saat ini memegang kendali penuh atas rute perairan yang disengketakan tersebut.
"Kami mengendalikan Selat Hormuz dan Iran tidak mengendalikan apa pun," tandasnya.
Situasi di Selat Hormuz terus mengalami fluktuasi sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Februari lalu. Iran saat itu merespons dengan mengerahkan rudal serta pesawat nirawak menuju sejumlah negara Teluk yang menampung fasilitas militer Amerika Serikat. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Basket |













