Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
11 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
10 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
6 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  Basket

Presiden Iran Masoud Pezeshkian Sebut Negaranya Terlibat Perang Skala Penuh Lawan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian Sebut Negaranya Terlibat Perang Skala Penuh Lawan AS
Selasa, 21 Juli 2026 07:16 WIB

JAKARTA - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintah dan warganya kini sedang berhadapan langsung dengan Amerika Serikat dalam sebuah konflik terbuka. Situasi ini menuntut kesiapan dari seluruh lapisan masyarakat untuk menghadapi berbagai imbas yang ditimbulkan, terutama yang berkaitan langsung dengan sektor perekonomian negara tersebut.

Kabar ini mengemuka setelah pertemuannya bersama sejumlah pejabat peradilan di Teheran, Senin (20/7/2026).

"Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ungkap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian seperti disiarkan AFP, Selasa (21/7/2026).

Kondisi geopolitik yang memanas menuntut sikap rasional dari para pemangku kepentingan maupun warga sipil.

"Kita harus realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini," urainya.

Fokus utama dari tantangan yang mengadang tidak lagi berpusat pada kekuatan militer semata. Sektor fundamental yang langsung menyentuh kehidupan warga sehari-hari menjadi medan ujian paling krusial.

"Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," jelasnya.

Tekanan finansial yang terus mendera berisiko memantik keresahan luas di tengah masyarakat. Dukungan publik yang selama ini menjadi fondasi kekuatan negara berpotensi mengalami pelemahan jika krisis ini tidak ditangani dengan tepat.

"Jika tekanan ekonomi menyebabkan ketidakpuasan sosial terbentuk dan ketidakpuasan ini menyebar, modal sosial yang sangat besar yang telah dibangun rakyat untuk mendukung negara dapat rusak," tambahnya.

Hantaman krisis ini tergambar dari lonjakan inflasi tahunan yang menyentuh angka hampir 90 persen akhir Juni lalu, sementara rilis data untuk Juli masih berproses. Lonjakan biaya hidup ini telah memicu gelombang demonstrasi yang berkembang menjadi aksi protes anti-pemerintah sejak akhir Desember dan mencapai eskalasinya awal Januari lalu.

Pemerintah setempat mencatat lebih dari 3.000 jiwa melayang dalam rangkaian kerusuhan tersebut dan menuding rentetan kekerasan itu didalangi oleh aksi terorisme Amerika Serikat bersama Israel. Di sisi lain, beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional meyakini jumlah korban jiwa melampaui angka resmi yang dirilis otoritas setempat.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Basket
wwwwww