Sikap AS Redakan Pasar, Minyak Dunia Turun ke 83 Dolar per Barel
![]() |
| Ilustrasi (net). |
JAKARTA - Fluktuasi tajam kembali menghantam pasar komoditas energi global. Harga minyak dunia anjlok ke titik terendah dalam tiga pekan usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik rencana serangan militernya terhadap Iran.
Data perdagangan Senin (3/8/2026) memperlihatkan nilai minyak mentah Brent ditutup dengan penurunan 6,35 persen menjadi 83,77 Dolar AS per barel. Penurunan serupa dialami oleh patokan West Texas Intermediate (WTI) yang menyusut 4,33 Dolar AS menjadi 80,34 Dolar AS per barel. Penurunan ini turut menyeret harga ritel bahan bakar bensin dan solar di AS yang merosot hingga 5 persen.
Klarifikasi Diplomatik Teheran
Pasar energi yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk sempat mengalami kepanikan akibat potensi perang terbuka. Ketakutan akan krisis pasokan perlahan memudar ketika Trump menyatakan masih membuka pintu kesepakatan dengan pemerintah Iran.
Namun, harapan akan adanya rekonsiliasi dibantah keras oleh otoritas Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menepis klaim adanya komunikasi antara kedua negara.
"Tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS," urainya merespons pernyataan pihak Washington.
Langkah Ekspansi Produksi OPEC+
Dari sisi penawaran, dinamika harga turut dibentuk oleh keputusan strategis OPEC+. Kelompok produsen minyak ini menyetujui penambahan kuota produksi sebanyak 188.000 barel per hari mulai awal September.
Meski langkah ini ditujukan untuk menstabilkan harga, kalangan analis pasar memproyeksikan tambahan volume tersebut belum tentu membanjiri pasar dalam waktu dekat. Hal ini mengingat tingginya risiko hambatan distribusi dari negara pengekspor utama seperti Rusia dan Kazakhstan akibat konflik berkepanjangan.
Dinamika Rute Tanker Minyak
Ketidakpastian juga menyelimuti jalur pelayaran internasional. Ancaman keamanan yang dilontarkan oleh kelompok Houthi Yaman membuat sebagian armada kapal tanker super milik Arab Saudi beralih haluan menyusuri pesisir Afrika.
Di saat bersamaan, lalu lintas maritim di Selat Hormuz dilaporkan mengalami perlambatan. Keputusan ini diambil oleh para operator kapal pasca-adanya laporan serangan di perairan strategis tersebut, kendati sejumlah kapal berbendera Saudi tetap memilih berlayar melintasi Selat Bab el-Mandeb. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Basket |













