HUT ke-12 KRP, Rawat Tradisi dan Perjuangan Reyog Jadi Warisan Budaya Dunia
![]() |
| Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) saat beraudiensi dengan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. (Ist) |
Selasa, 11 Agustus 2026 16:34 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Memasuki usia 12 tahun, keberadaan Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga, merawat, dan memperkenalkan kesenian Reyog Ponorogo sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Nusantara. Tahun ini, HUT ke-12 KRP bertepatan dengan petingatan HUT ke-530 Kabupaten Ponorogo.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Wakil Ketua Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), Suparno yang akrab disapa Nojeng, mengatakan, KRP didirikan oleh para pegiat Reyog Ponorogo di Jakarta dan sekitarnya dengan semangat mempererat silaturahmi sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya asal Ponorogo di tengah masyarakat perkotaan Jakarta dan sekitarnya, serta mendukung pengakuan dunia internasional (UNESCO) terhadap Reyog Ponorogo.
Menurutnya, keberadaan KRP tidak sekadar menjadi wadah berkumpul bagi para pecinta Reyog, tetapi juga memiliki misi lebih besar, yakni memastikan kesenian tradisional tersebut tetap hidup, dikenal generasi muda dan terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.
"Tujuan KRP salah satunya adalah bagaimana kita ikut melestarikan Reyog Ponorogo sebagai bagian dari budaya Nusantara. Kami ingin generasi muda tetap mengenal, mencintai, dan ikut menjaga kesenian ini," kata Nojeng, Selasa (11/8/2026).
Nojeng menjelaskan, perjuangan KRP dalam menjaga Reyog Ponorogo semakin mendapat perhatian ketika muncul persoalan terkait upaya pengajuan Reyog sebagai warisan budaya dunia UNESCO.
"Kegagalan Reyog mendapatkan tiket pengajuan pada saat itu menjadi momentum bagi para pegiat budaya untuk tidak berhenti memperjuangkan pengakuan internasional," ujarnya.
Ia menuturkan, KRP kemudian mengambil langkah dengan menyampaikan aspirasi kepada DPR RI. Para pegiat Reyog dari Jakarta dan sekitarnya diterima Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad pada 21 Juni 2022 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, KRP menyampaikan harapan agar DPR RI turut memberikan dukungan terhadap perjuangan pengakuan Reyog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia UNESCO.
Dukungan dari lembaga negara dinilai penting karena perjuangan menuju pengakuan UNESCO bukan hanya persoalan mendapatkan sebuah predikat internasional, tetapi juga menyangkut upaya membangun kesadaran bahwa seni tradisional merupakan identitas dan kekayaan bangsa yang harus dilindungi secara berkelanjutan.
"Kami meminta dukungan kepada DPR RI. Saat itu kami diterima Pak Dasco dan beliau menyampaikan akan turut memperjuangkan agar Reyog mendapatkan pengakuan UNESCO," bebernya.
Nojeng merasa bangga dan bersyukur, karena Reyog Ponorogo sudah resmi diakui dan masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO dan menjadi warisan budaya takbenda Indonesia ke-14 yang dikukuhkan oleh badan kebudayaan PBB tersebut.
"Kategorinya masuk dalam daftar In Need of Urgent Safeguarding atau Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak," ungkapnya.
Bagi KRP, lanjut Nojeng, perjuangan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan seni budaya Nusantara memiliki ruang yang kuat di tengah perubahan zaman.
Reyog Ponorogo tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, tradisi, musik, tari, serta kehidupan sosial masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan seniman, komunitas, pemerintah, dunia pendidikan, hingga masyarakat luas.
KRP juga melihat Jakarta sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan Reyog kepada masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran komunitas pegiat Reyog di Ibu Kota membuat kesenian tersebut dapat terus dipentaskan dan dikenalkan kepada generasi muda, sekaligus menjadi jembatan budaya antara masyarakat Ponorogo dengan masyarakat di luar daerah.
"Jangan sampai kesenian tradisional hanya menjadi cerita dari masa lalu. Harus terus dipentaskan, diajarkan dan dikenalkan kepada anak-anak muda. Kalau generasi mudanya tidak mengenal, siapa yang akan meneruskan?" ucapnya.
Menurutnya, momentum HUT ke-12 KRP pada 11 Agustus tahun ini menjadi refleksi perjalanan komunitas sekaligus penegasan kembali komitmen untuk menjaga Reyog Ponorogo.
"Bagi KRP, merawat Reyog berarti merawat salah satu bagian dari identitas Indonesia. Sebab, ketika sebuah tradisi tetap hidup di tengah generasi baru, yang dilestarikan bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan juga sejarah, nilai, dan jati diri bangsa," pungkasnya.
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | e-Sports |













