Capai Swasembada Delapan Komoditas, Prabowo Apresiasi Petani
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto. |
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memaparkan keberhasilan pencapaian swasembada pangan dalam waktu satu tahun. Pencapaian ini disampaikannya saat membacakan pidato kenegaraan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Pemerintah awalnya menargetkan swasembada pangan tercapai dalam empat hingga lima tahun. Namun, melalui pemangkasan 145 aturan penyaluran pupuk dan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen, produksi sektor pertanian meningkat drastis.
"Kita sekarang swasembada beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah," ungkapnya di hadapan anggota legislatif.
Peran Petani dan Koperasi Desa
Prabowo secara khusus memberikan apresiasi kepada jajaran Kementerian Pertanian di bawah pimpinan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, serta para petani di seluruh Indonesia. Salah satu contoh keberhasilan dirasakan oleh Joko Purnomo, petani asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang kini mampu panen padi tiga kali setahun dengan produktivitas 9 ton per hektare berkat ketersediaan air dan pupuk.
Sebagai pusat ekonomi di tingkat bawah, pemerintah telah mengoperasikan 10.000 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih. Fasilitas ini bertindak sebagai pembeli (offtaker) hasil pertanian dan perikanan warga setempat. Targetnya, 30.000 koperasi akan beroperasi penuh pada akhir 2026 agar petani dan nelayan memiliki daya tawar yang kuat.
Investasi Sumber Daya Manusia
Pembangunan infrastruktur fisik turut diimbangi dengan intervensi gizi dan pendidikan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini dinikmati puluhan juta warga, mulai dari siswa sekolah, ibu hamil, hingga warga lanjut usia. Program ini sekaligus menyerap hasil panen petani dan peternak lokal.
Di sektor pendidikan dasar, negara mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki 71.744 sekolah sepanjang tahun ini serta membangun 182 Sekolah Rakyat. Sekolah asrama ini dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu guna memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
"Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak. Ketidakmampuan tidak boleh menjadi warisan," terangnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kompas.com |
| Kategori | : | Nasional, Voli, Ekonomi, DKI Jakarta |













