Fenomena 'Nge-tag' Parkir Picu Konflik, Ahli Sarankan Sistem Antrean
![]() |
| Ilustrasi tempat parkir. |
JAKARTA - Beredarnya video keributan antar pengguna kendaraan akibat praktik memesan atau nge-tag tempat parkir memicu sorotan publik. Kebiasaan menempatkan orang atau barang untuk menjaga lahan kosong ini dinilai melanggar etika ruang publik dan merusak sistem antrean yang seharusnya berjalan tertib.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Sugihardjo menyatakan bahwa tindakan memesan ruang parkir kosong secara fisik oleh individu tanpa kendaraan tidak dapat dibenarkan.
"Praktik ini secara tegas tidak dapat dibenarkan di ruang parkir publik karena merusak sistem antrean, menurunkan efisiensi perputaran kendaraan, dan memicu konflik sosial yang mengganggu ketertiban umum," tegasnya.
Hak Utama Kedatangan Fisik
Menurut aturan main dasar di area publik, kedatangan kendaraan secara wujud fisik menjadi indikator utama untuk mendapatkan ruang. Selama lokasi tersebut belum terisi mobil atau motor, siapa saja berhak menempatinya tanpa perlu dihalangi oleh orang yang menunggu.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) sekaligus Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno menyampaikan pandangan senada. Ia menilai kebiasaan menyuruh penumpang turun lebih dulu untuk menjaga lahan adalah akar terjadinya perselisihan.
"Selama itu masih ada kosong, dia punya hak juga untuk mengisi. Tidak usah dijagain. Jadinya ribut. Ya tidak boleh lah, tidak usah dijagain selama itu masih tersedia ruangnya," urainya, Rabu (19/8/2026).
Pengecualian Kelompok Rentan
Meskipun sistem antrean berlaku ketat untuk masyarakat umum, kebijakan transportasi yang inklusif tetap memberikan toleransi khusus.
Sugihardjo menambahkan bahwa prioritas ketersediaan lahan dapat diberikan kepada kelompok tertentu demi alasan kemanusiaan dan aksesibilitas. "Dari perspektif kebijakan transportasi yang inklusif, pandangan ini harus dikecualikan untuk kelompok rentan dan berkebutuhan khusus, seperti penyandang disabilitas, ibu hamil, serta lansia," paparnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Olympic, DKI Jakarta |













