Pinjaman Tumbuh 4,4 Persen, Mayoritas Utang Pemerintah Mengalir ke Sektor Kesehatan
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mengalami kenaikan 4,4 persen menjadi 453,4 miliar dolar AS pada kuartal II 2026. Kendati nominalnya bertambah, penggunaan dana tersebut diarahkan secara ketat untuk membiayai sektor-sektor produktif dan pelayanan esensial masyarakat.
Berdasarkan rincian data terbaru, Selasa (18/8/2026), komponen utang pemerintah yang mencapai 216,3 miliar dolar AS dialokasikan untuk menopang berbagai kegiatan strategis negara.
Fokus pada Kesehatan dan Pendidikan
Sebagai salah satu tulang punggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pengelolaan pinjaman dilakukan secara terukur. Alokasi terbesar dana asing ini mengalir ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 22 persen.
Disusul oleh sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen. Sektor jasa pendidikan mendapat porsi 16,2 persen, diikuti konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyebut struktur ini menjaga keberlanjutan pembiayaan negara. "Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga," paparnya.
Stabilitas Moneter Terkendali
Selain pemerintah, peningkatan utang bank sentral juga didorong oleh ketertarikan investor non-residen terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen moneter pro-pasar ini terbukti efektif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ketidakpastian ekonomi global.
Bank Indonesia memastikan struktur pembiayaan nasional tetap tangguh dan meminimalkan risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas makroekonomi ke depannya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kompas.com |
| Kategori | : | Ekonomi, KONI, DKI Jakarta |













